The Last Blacklist
Ada gak sih orang yang lupa kalau dia pernah berbuat salah?. Ada gak sih orang yang benar-benar tulus mau merong-rong sahabatnya sendiri?. Pertanyaan itu yang sering melayang-layang dipikiranku. Entah mengapa rasanya akhir-akhir ini aku sering menyendiri, merenungi apa yang tengah ku alami. Bernostalgia bersama angan-anganku. Ku putar lagi masa-masa dulu hingga aku terlena dan kadang buat aku lupa waktu.
“Nana, mana Nana!” Dengan nada tinggi ia memamnggil namaku. Aku mengangkat tangan dan menatapnya dengan takut. “Sini, ikut saya.” Lalu aku keluar kelas mengahadap kepadanya. “Duduk!.” Aku pun duduk.
“Dari mana kamu bias buka facebook?”
“Dibuka sama saudara saya.” Jawabku santai.
“Jujur saja, dari pada nanti teman-temanmu juga kena.” Aku diam sejenak. Bimbang, tapi akhirnya…
“Pakai hpnya Nabila.” Aku mengaku. Aku pikir lebih baik terus terang dari pada harus mengorbankan banyak teman.
“Ya sudah di sini dulu.” Ia beranjak pergi meninggalkanku menuju ruang kosong. Sedang aku kembali ke kelas. Tak lama kemudian dia dating lagi dan menempelkan kertas di punggungku. Entahlah apa tulisannya, aku tak sempat membaca. “Sana, puterin sekolah ini sampai jam 12:00.” Aku berjalan meninggalkannya. Risih. Aku pengen baca, tapi gak bisa. Baru berjalan satu kali, ia menghentikan langkahku lagi. “Sini kamu!.” Aku mendekat. “Teman-temanmu siapa lagi yang pakai hpnya Nabila?”
“Enggak tahu aku. Orang aku pakainya berdua di kamar.” Jawabku.
“Ya udah, madep sana.”
Hmmm, enggak taunya ditempelin lagi punggungku. So, ada dua kertas. Tapi, lagi-lagi aku gak tau isinya. Mesti waktu aku jalan, banyak yang jijik gitu dech. Setelah kurang lebih enam kali aku mengitari sekolah ini.
Si keamanan memanggilku. “Cukup!.” Aku berhenti. Memang benar-benar seperti robot. Aku berdiri agak jauh tepat di hadapannya. Lalu dia menasehatiku begini dan begitu. Dari pengakuannya, aku tau kalau Nabila itu adiknya. Dia enggak pengen, aku menghasut adiknya karena memang dia sangat menyayanginya. Sedangkan peraturan di sekolah ini, dilarang membawa hp. Apalagi sampai memakai untuk facebookan. Setelah beberapa jam, aku terpaku di hadapannya, ia menyuruhku menyobek kertas itu dan kembali ke kelas.
“Eh, emang tadi tulisannya apa?” Tanyaku pada Alyssa sekembalinya di kelas. Dia tak menjawab. Hmm, tapi aku tak yakin kalau dia tak tahu. Aku pun beralih Tanya ke Freela. “Tulisannya, I’m a whore of FB and a wolf sheepy.” Jawabnya. “Ha?” Aku langsung shock mendengarnya. Air mataku hamper jatuh. “Terus apa lagi?”. “I’m an envier my friendship.” Lanjutnya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu nistakah aku? Aku akuin, aku memang salah. Tapi, pantaskah dia menulis kata itu untuk ku?
Semenjak itu, aku jadi sering menggosok punggung. Masih terasa saat kertas bertuliskan kata hina itu menempel di punggungku. Lama-lama juga aku menjadi rada’ illfill sama cowok. Kan yang biasa ngomong kotor itu cowok? Ya gak sih? Aku benar-benar gusar. Aku seperti hilang tanpa arah. Namun, aku punya tekad yang kuat. Meski aku dikata bahkan dianggap seperti itu, aku akan tunjukkan kalau aku tak seperti itu.
Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan penuh dengan kedongkolan. Masih terngiang dibenakku akan insiden hari lalu.Ku lihat teman-teman berlalu-lalang didepanku. Tertawa dengan penuh sukacita. Sedang aku tertunduk lesu melawan perasaan hati yang sedang berkecamuk. “Na,” Ada suara orang memanggilku. Kutolehkan wajahku ke suara itu. Ternyata Fauzan. “Kenapa?” suara jutekku kulontarkan begitu saja. “Masih mikirin kejadian kemarin?Udah nggak usah…”
“Udah, nggak usah sok nasehatin. Paling-paling kamu nggak ada bedanya sama dia!” Jawabku sinis.
“Maksud kamu?”
“Putus! Aku mau kita putus. Sekarang juga!” Entah ada angina apa tiba-tiba aku sangat kasar padanya.
“Nana… kamu Cuma bercanda kan?”
“Bercanda katamu? Aku serius, Fauzan. Udahlah…” jawabku dengan ketus.
Aku langsung meninggalkannya, berlari ke kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya disana.
Setelah seminggu aku putus dengan Fauzan kekasihku, aku jadi semakin murung. Sungguh, sebenarnya aku masih mencintainya. Tapi entahlah aku sudah terlanjuur benci dengan lelaki. Setiap malam aku sering bangun dan tak terasa dihar-hari itulah air mataku terus meleleh.Hingga suatu malam, tepat malam jum’at, aku bangun pukul 02:00. Entah ada angin apa, aku ingin sekali bisa mendekatkan diri pada Allah SWT. Setelah mengambil air wudhu, ku kenakan mukena dan ku lakukan sholat tahajjud, hajad dan taubat. Setelah itu ku baca surat Al-Kahfi. Hatiku begitu tenang saat melantunkan ayat-ayat itu. Tak terasa, sholat dan baca Qur’an itu kini telah menjadi rutinitasku. Aku mulai bisa tersenyum dan tak berpikir macam-macam lagi. Belajarku pun jadi rajin.
“Alhamdulillah… Nana, sekolah kita lulus 100%”. Teriak Rena, teman sebangkuku. Serentak aku, Rena, Nesya, Icha, Defani, Nia, Alika, Olla, Cinta, Alyssa, Freela, Lucky, Nisa’ dan Sally berpelukan bersama.”
“Nanti malam kita rayain yuk kemenangan ini.” Ajak Nia. Dan tanpa kusangka, Fauzan dating memberiku secarik kertas, “Buka nanti aja, Na. Hmm… maafin aku ya.” Aku hanya memberinya senyuman kecut.
“Na, udah adzan maghrib.” Tiba-tiba Zakiya mengagetkanku. “Lagi mikirin apa sih?” Dia duduk di sebelahku.
“Kertas apa ini?”
“He he he, itu masa SMA ku. Aku juga belum baca, sengaja sih. Itu surat terakhirnya sebelum aku ke (Universitas Wise Yordania) ini.” Aku mula membuka dan membacanya.
“Aku tak bisa berkata lagi. Hanya ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari hatiterdalamku yang ingin ku berikan. Semoga kita bisa bertemu lagi setelah lima tahun kau menimba ilmu di Yordania.”
Ahmad Fauzan Azami, maziltu uhibbu ilaiki.
“Oh, so sweet. Ya udah sholat dulu yuk. Besok ada imtihan di kampus.” Ku lipat kertas itu dan ikut beranjak untuk mengambil air wudhu. Senja di Yordania ini, membawaku melambung tinggi bersama teman-teman SMAku. Senja, sampaikan salam rindu pada mereka, juga pada Fauzan, lelaki yang pernah ada di hatiku dari Hazeera Oelya. Semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya.
Buah Karya : Milla Minhatul Maula (XII Ar-Risalah)
Dikutip dari Kisah Nyata Seorang Sahabat
Dan aku geleng2 sendiri kepalanya ketika membaca kisah ini. Hakhakhak