Salam Alumni : Havin Maulana Akbar

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera, sahabat Ar-risalah semua. Solidaritas merupakan suatu aset kehidupan yang sangat berharga bagi umat manusia. Solidaritas harus sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, sesuai dengan norma sosial dan agama yang terkait. Jadi bukanlah solidaritas yang sakral yang kita bahas saat ini. Mengingat pentingnya solidaritas antara satu insan dengan insan lainnya, alih-alih akan terjadi perang tanpa adanya solidaritas antar umat manusia. Sebagaimana yang kita temukan di berbagai belahan dunia. Bahkan Perang Dingin yang tercatat sebagai sejarah, Perang Dunia 1, Perang Dunia 2, yang merupakan perang untuk menjadi negara adikuasa di dunia. Sebagaimana Perang Saudara yang terjadi antara Jerman barat dan Jerman Timur. Semuanya sebenarnya timbul dari satu aspek yang terlupakan, solidaritas. Tanpa danya solidaritas yang naik, hancurlah suatu negara bahkan dunia. Banyak pertumpahan darah semata wayang hanya karena masalah sepele, dan nafsu amarah adalah pelampiasan utama dalam mengaplikasikan rasa kecewa akan  hal tersebut. Sehingga perang merupakan jawaban yang sia-sia. Menyita pikiran, nyawa dan harta. Bahkan seperti sejarah menyeramkan, Perang Dunia 2 yang lalu, banyak negara dirugikan hanya karena pelampiasan amarah saja.

Oleh karenanya, pentinglah suatu solidaritas bagi semua aspek kehidupan ini. Saya akan memberi beberapa contoh menarik, dalam memenangkan suatu perang dibutuhkan taktik yang bagus dan SOLIDARITAS yang bagus pula. Inilah poin pionir kita, solidaritas. Oleh karena itu, tema yang saya bawakan pada majalah Al-Ikhbar kali ini adalah  “Solidaritas Satu Masa (Satukan Tujuan untuk Meraih Asa).” Kami angkat dari persahabatan di Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah. Mulai dari perjalanan panjang kami dalam mencari ilmu di pondok tercinta kami tersebut. Asam-manis dalam meraih kesuksesan dalam menuntut ilmu turut kami rasakan. Hidup merantau jauh dari keluarga demi mencari sang mutiara ilmu, itulah yang dirasakan teman-teman selama di pondok. Mulai dari ilmu umum, agama/diniyah, hingga Al-Quran, semua dipelajari oleh para santri PPST. Ar-Risalah. Sungguh merupakan suatu kesempatan sekali seumur hidup. Dan tujuan kami satu, “menuntut ilmu”. Dalam menuntut ilmu juga butus suatu rasa persaudaraan, rasa saling tolong menolong. Sebagaimana Sabda Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam-  yang artinya,”Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan kerusakan.”

Jelaslah sudah, butuh suatu solidaritas dalam menuntut ilmu untuk mencapai kesuksesan yang nyata di dunia dan akhirat. Seperti di Ponpes Ar-Risalah, kami saling membantu dalam menuntut ilmu, contoh : jika kita menemui soal dalam kitab kuning yang sulit dipecahkan, maka  kita bisa bertanya kepada kak kelas yang tinggal se-pesantren dengan kita. Masa-masa di pondok pesantren merupakan sebuah berkah bagiku. Bagi kita semuanya. Khususnya di ponpes Ar-Risalah Lirboyo Kediri. Berbeda halnya dengan masa kuliah yang saya alami sekarang. Masa kuliah yang cenderung agak individualitas atau bahkan bersolidaritas namun salah dalam menempatkannya. Sehingga banyak aksi demo yang tak bertujuan, anarkisme, pembunuhan, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, solidaritas perlu suatu arahan yang membawanya kepada suatu kondisi yang positif, bukan justru sebaliknya. Lalu sekarangt, bagaimanakah kita membangun rasa solidaritas tersebut? Saya akan menjawabnya melalui pengalaman saya selama menuntut ilmu di PPST. Ar-Risalah. Cara membangun solidaritas butuh kesabaran dan ketelatenan. Terlebih di ponpes kita banyak santri dari berbagai kota serta beragam corak bahasa dan watak. Tentunya tidak sembarangan kita bisa bersolidaritas dengan mereka. Poin penting dalam solidaritas adalah harus ada kesamaan ideologi. Suatu negara terbentuk karena adanya persamaan ideologi. Tentunya untuk membangun komunitas santri yang sukses kita harus punya satu tujuan utama, yakni mencari ilmu. Setelah itu, lakukan intropeksi. Cek kendala-kendala yang ada, meliputi: kesenjangan, permusuhan, bertolak-belakangnya pendapat. Atasi dengan jiwa kasih dan persahabatan. Jangan emosi. Depankan cara diplomasi, bukan cara fisik belaka.

Dengan adanya persamaan ideologi maka terbentuklah solidaritas yang kuat. Dan perlu diingat bahwa tujuan tersebut harus diarahkan kepada hal-hal yang positif, yang tidak melanggar norma agama dan sosial yang berlaku. Sehingga solidaritas tersebut membawa kemanfaatan tak hanya di dunia saja, namun juga di akhirat. Solidaritas juga harus berimplementasi kepada seluruh anggota yang terlibat. Tak hanya mendominasi pada beberapa personal saja. Namun, suatu solidaritas haruslah seimbang, adil, dan sama rata. Masing-masing harus mendapatkan hak-haknya. Sehingga tidak timbul kecemburuan sosial yang dapat menyebabkan perpecahan, pengelompokan-pengelompokan alias gangster.

Banyak manfaat yang dapat diambil dari solidaritas. Suatu tujuan akan lebih mudah dicapai. Selain itu, solidaritas juga bisa membawa kepada kebahagiaan kekal, yakni surga. Namun dengan catatan, solidaritas yang dilakukan bertendensi sesuai dengan agama dan hukum yang berlaku di negara si Fulan. Solidaritas akan membangun jiwa-jiwa gotong-royong. Jika rasa solidaritas sudah kuat, maka tidak akan ada lagi istilah teman makan teman. Akan tetapi masing-masing individu yang terlibat akan saling mengasihi satu sama lain sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam- yang artinya,”Mukmin satu dan mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” Dan hadist lainnya, dari Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda yang artinya,”Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.”

Well, sebagaimana yang ditauladankan oleh sahabat Anshor dan Muhajirin. Mereka saling mengasihi karena Allah SWT. Sehingga ketika saudara Muhajirin membutuhkan pertolongan, dengan tanpa segan saudara Anshor menolong sahabat Muhajirin sebagaimana keluarga sendiri. Bahkan sahabat Anshor rela mendahulukan hajat (kebutuhan) sahabat Muhajirin daripada kebutuhan personalia mereka. Sungguh solidaritas yang mengagumkan. Solidaritas yang seperti inilah yang dicintai oleh Allah SWT. dan Nabi-Nya. Oleh karenanya, sudah selazimnya kita memupuk bibit-bibit solidaritas yang baik, tidak ada niat busuk yang tertanam dalam hati masing-masing pihak. Solidaritas yang berbasis agama dan akhlak. Solidaritas yang diridhoi oleh Allah SWT. dan disenangi oleh Rasul-Rasul-Nya. Subhanallah!

Kemudian, untuk teman-teman santri Ar-Risalah, saya berpesan untuk belajar bersungguh-sungguh dan selalu mengedepankan akhlaqul-karimah. Karena dimanapun Anda, Anda adalah santri Abah dan Ummi PPST. Ar-Risalah. Kembangkanlah dan amalkan ilmu yang telah kalian dapatkan di pondok tercinta kita. Selalu depankan akhlaqul karimah dan bentuklah suatu rasa solidaritas yang baik dan syar’i.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Havin Maulana Akbar

Mahasiswa Zhe Jiang University China.

Comments
2 Responses to “Salam Alumni : Havin Maulana Akbar”
  1. anas mengatakan:

    salam buat semua, para alumni !!!!
    kita sangat senang dengan adanya ukhuwah islamiyah yang diciptakan pondok ini .
    saya alumni SD 2004, masih ada ga yg nmnya ust. ma’sum?
    rasanya kangen ingin bertemu UMMI….

    ada gak ya data para alumni?

  2. Fadil mengatakan:

    saya: alumni SMP 2005..
    Gmna Kbrx Gus Shofa n ka2x krena kmi satu angkatan…
    Smogha Ar-Risalah terus berkembang…Amien

Leave A Comment