Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0
Teks Arab
عن عائشة رضي الله عنها قالت: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لا نَذْكُرُ إلا الحج، حتى جِئْنَا سَرِف فَطَمِثْتُ، فدخل عليَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبْكِي، فقال: «ما يُبْكِيك؟» فقلت: والله، لوَدِدْتُ أنَّي لم أكُن خرجت العَام، قال: «ما لك؟ لَعَلَّكِ نَفِسْتِ؟» قلت: نعم، قال: «هذا شيء كَتَبه الله على بنات آدم، افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تَطُوفي بالبيت حتى تَطْهُري» قالت: فلمَّا قدمت مكة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأصحابه «اجْعَلُوها عُمرة» فأحَلَّ الناس إلا من كان معه الهَدْي، قالت: فكان الهَدْي مع النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وذَوِي اليَسَارَة، ثم أهَلُّوا حين راحُوا، قالت: فلمَّا كان يوم النَّحر طَهَرْت، فأمَرَني رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَفَضْتُ، قالت: فَأُتِيَنَا بِلَحم بَقَر، فقلت: ما هذا؟ فقالوا: أَهْدَى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن نِسَائه البقر، فلمَّا كانت ليلة الحَصْبَةِ، قلت: يا رسول الله، يرجع الناس بحجة وعُمرة وأرجع بِحَجَّة؟ قالت: فأمر عبد الرحمن بن أبي بكر، فَأَرْدَفَنِي على جَمَلِه، قالت: فإني لأذْكُر، وأنا جَارية حَدِيثَةُ السِّن، أَنْعَسُ فيُصِيب وجْهِي مُؤْخِرَة الرَّحْل، حتى جِئْنَا إلى التَّنْعِيم، فَأَهْلَلْتُ منها بِعُمْرة؛ جزاء بِعُمْرَة الناس التي اعْتَمَرُوا.
Terjemahan
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Kami berangkat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kami tidak menyebut (berniat) selain untuk menunaikan haji, sampai kami tiba di Sarif. Lalu aku haid. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Aku menjawab, "Demi Allah, sungguh aku ingin seandainya aku tidak ikut berangkat di tahun ini." Beliau bertanya, "Apa yang terjadi denganmu? Apakah engkau datang bulan?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukan apa yang dilakukan orang yang haji, hanya saja jangan tawaf di Baitullah sampai engkau suci." Aisyah menuturkan, "Manakala aku tiba di Makkah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada sahabat-sahabat beliau, "Ubahlah (manasik kalian) menjadi umrah." Maka orang-orang bertahalul kecuali orang yang membawa hewan kurban. Saat itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membawa hewan kurban, demikian juga Abu Bakar, Umar dan orang-orang yang berharta. Kemudian mereka berihram untuk manasik haji ketika berangkat (ke Mina). Ketika tiba hari Nahr (10 Zulhijah) aku suci. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk tawaf ifadah. Lalu kami diberi daging sapi, aku bertanya, "Daging apa ini?" Mereka menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkurban sapi untuk istri-istri beliau. Di malam haṣbah aku berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang pulang membawa haji dan umrah sementara aku pulang hanya membawa haji." Ia menuturkan, lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintah Abdurrahman bin Abu Bakar (menemaniku). Lalu ia memboncengkanku di atas untanya. Sungguh aku masih ingat, ketika itu aku seorang wanita muda, aku mengantuk sehingga ujung pelana unta mengenai wajahku. Sampai kami tiba di Tan'īm, aku berihram untuk umrah dari Tan'īm guna menyamai umrah orang-orang yang sudah mengerjakannya.
Penjelasan
Makna hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Kami berangkat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kami tidak menyebut (berniat) selain untuk haji." Yaitu ketika berangkat dari Madinah. Keberangkatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada hari Sabtu, 5 hari terakhir bulan Zulkaidah, setelah salat Zuhur empat rakaat. Kemudian beliau berjalan sampai Żul Ḥulaifah, lalu salat Asar dua rakaat di tempat ini. "kami tidak menyebut (berniat) selain untuk haji". Dalam riwayat lain, "kami tidak melihat (berpendapat) selain haji". Akan tetapi diriwayatkan darinya dalam hadis lain yang sahih, "Sebagian kami berihram untuk umrah dan sebagian kami berihram untuk haji, dan aku termasuk orang yang berihram untuk umrah." Berdasarkan hadis ini, ucapan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Kami tidak menyebut (berniat) selain untuk haji" dan "Kami tidak melihat (berpendapat) selain untuk haji" tidak terlepas dari tiga kondisi: 1. Maksudnya kewajiban haji dari sisi asalnya, bukan penjelasan jenis ibadah yang mereka ihram dengannya. 2. Maksudnya ketika mereka berangkat sebelum sampai miqat dan memulai ihram. 3. Maksudnya, kondisi-kondisi sahabat yang lain, bukan dirinya. "Sampai kami tiba di Sarif", artinya sampai mereka tiba di satu tempat bernama Sarif. Sebuah tempat dekat Makkah. "Lalu aku haid", artinya Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- datang bulan. "Maka Rasulullah masuk menemuiku sementara aku sedang menangis, maka beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Aku berkata, "Demi Allah, aku berharap seandainya aku tidak ikut berangkat tahun ini." Ketika Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengalami apa yang ia alami tersebut, ia menangis dan berangan-angan sekiranya ia tidak berangkat haji bersama mereka tahun ini; karena ia mengira ketika dirinya datang bulan berarti amal-amal haji terputus dan ia tidak bisa mendapatkan kebaikan tersebut. Beliau bertanya, "Ada apa denganmu? Apakah engkau nifas?" maksudnya, datang bulan. Aku berkata, "Ya". Beliau bersabda, "Ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam." Artinya, haid adalah satu perkara yang telah ditetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Tidak hanya mengenaimu, dan juga bukan di bawah kendalimu, sehingga tidak ada alasan untuk menangis." Lakukan apa yang dilakukan orang yang haji, hanya saja jangan tawaf di Baitullah sampai engkau suci." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu Aisyah bahwa haid tidak menghalanginya melanjutkan ibadahnya, tidak merusak ihramnya dan bahwa ia boleh melakukan apa yang dilakukan orang yang berhaji, seperti wukuf di Arafah, Mina, Muzdalifah, melempar jumrah dan amal-amal haji lainnya, kecuali tawaf, di mana ia tidak boleh mengerjakannya sebelum suci dari haid dan mandi. Aisyah menuturkan, "Manakala aku tiba di Makkah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada sahabat-sahabat beliau, "Ubahlah (ibadah kalian) menjadi umrah." Maksudnya, manakala Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba di Makkah, beliau memerintah orang-orang yang tidak membawa hewan kurban supaya mengubah ihram mereka menjadi umrah. Siapa yang berihram haji dan tidak membawa hewan kurban, hendaknya ia mengubah ihram hajinya menjadi umrah. Sehingga ia melakukan tawaf, sai dan memendekkan rambut, maka ia telah halal dari ihramnya. Dalam riwayat Muslim, “Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan siapa di antara kami yang tidak membawa hewan kurban maka hendaknya dia bertahalul. Kami bertanya, “Tahalul apa?” Beliau menjawab, “Tahalul semuanya. "Ia berkata, “Maka orang-orang bertahalul kecuali orang yang membawa hewan kurban. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membawa hewan kurban, juga Abu Bakar, Umar dan orang-orang yang berharta.” Maksudnya, orang yang tidak membawa hewan kurban bertahalul (halal) dari ihramnya setelah mereka melakukan tawaf, sai dan memendekkan rambut. Sedangkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- dan orang yang membawa hewan kurban yang Allah beri kelonggaran rezeki tetap berada dalam ihram mereka. Karena mereka membawa hewan kurban, dan siapa yang membawa hewan kurban, maka ia tidak boleh mengubah ihramnya menjadi umrah. Berdasarkan sabda Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, “Seandainya aku tidak membawa hewan kurban pasti aku melakukan seperti yang aku perintahkan kepada kalian.” “Ia berkata, “Kemudian mereka berihram untuk haji ketika berangkat (ke Mina).” Maksudnya, orang-orang yang tawaf, sai dan memendekkan rambut tersebut berihram haji ketika mereka berangkat ke Mina, yakni pada hari Tarwiyah, tanggal 8 Zulhijah. Dia berkata, “Ketika tiba hari Nahr aku suci.” Maksudnya, Aisyah suci dari haidnya di hari Nahr, yakni tanggal 10 Zulhijah. Dinamakan hari Nahr karena di hari tersebut hewan-hewan kurban dinahr (disembelih).“Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku tawaf ifāḍah”, yakni setelah Aisyah –raḍiyallāhu 'anhā- suci dari haidnya di hari Nahr, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahnya mengerjakan tawaf ifāḍah. Ia pun melaksanakannya. Dia berkata, “Lalu kami diberi daging sapi. Aku berkata, "Daging apa ini?" Maksudnya, ia dan kaum wanita yang bersamanya mendapatkan kiriman daging sapi, kemudian ia bertanya tentang asal daging ini. “Mereka menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkurban sapi untuk istri-istri beliau.” Maksudnya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembelih untuk setiap istri-istri beliau satu ekor sapi. “Di malam Ḥaṣbah”, yakni ketika tiba malam turun dari Mina, yaitu malam setelah hari-hari Tasyriq. Dinamakan malam Ḥaṣbah, karena mereka meninggalkan mina lalu singgah di Al-Muḥaṣṣab dan bermalam di tempat ini. Dalam riwayat Bukhari, “Bahwa Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidur sebentar di Al-Muḥaṣṣab, kemudian naik kendaraan menuju Baitullah lalu mengerjakan tawaf.” “Aku berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang pulang pulang membawa haji dan umrah, sementara aku pulang hanya membawa haji." Maksudnya, mereka pulang membawa haji tersendiri dan umrah tersendiri, karena mereka melakukan haji Tamattuk, sementara aku pulang tanpa membawa umrah yang dikerjakan terpisah, karena ia melakukan haji Qiran. Umrah dalam haji Qiran masuk jadi satu dalam haji. Dalam riwayat Muslim, “Apakah orang-orang pulang dengan membawa dua pahala, sedangkan aku hanya satu pahala?” Maksudnya, ia ingin memiliki umrah yang dikerjakan terpisah dari haji sebagaimana dilakukan para Ummahatul Mukminin lainnya dan para sahabat yang mengubah haji menjadi umrah, di mana mereka menyelesaikan umrah dan tahalul sebelum hari Tarwiyah, kemudian mereka ihram haji dari Makkah di hari Tarwiyah. Sehingga mereka memperoleh umrah dan haji yang dikerjakan sendiri-sendiri. Sedangkan Aisyah hanya memiliki umrah yang masuk dalam haji karena memang digabungkan (haji Qiran). Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya di hari Nafar, “tawafmu cukup untuk haji dan umrahmu.” Artinya, kedua ibadah itu telah sempurna dan mencukupimu. Namun ia enggan dan tetap menginginkan umrah yang dikerjakan sendiri sebagaimana yang diperoleh orang lain. “Ia menuturkan, "lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintah Abdurrahman bin Abu Bakar (menemaniku). Lalu ia memboncengku di atas untanya.” Artinya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan saudara Aisyah, yakni Abdurrahman bin Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- keluar bersamanya ke Tan'īm supaya Aisyah bisa menunaikan umrah dari tempat ini. Sehingga ia seperti orang lainnya. Maka Abdurrahman -raḍiyallāhu 'anhu- memboncengkan Aisyah di belakangnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim yang lain. “Ia menuturkan, “Sungguh aku masih ingat, ketika itu aku seorang wanita muda, aku mengantuk sehingga ujung pelana unta mengenai wajahku.” Yakni, ketika Abdurrahman bin Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- membonceng Aisyah di belakangnya dan berangkat bersamanya menuju Tan'īm, Aisyah mengantuk hingga kepalanya tertunduk karena sangat mengantuk sampai terantuk ujung pelana unta. “Hingga kami tiba di Tan'īm, dan aku berihram umrah dari Tan'īm untuk menyamai umrah orang-orang yang sudah mengerjakannya.” Maksudnya, ketika keduanya tiba di Tan'īm, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berihram melaksanakan umrah yang dikerjakan sendiri untuk menyamai umrah orang-orang yang telah mengerjakan itu terlebih dulu. Dalam riwayat lain dalam “Aṣ-Ṣaḥīḥain” bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya setelah ia menunaikan umrah, “Ini ganti umrahmu”, artinya umrah ini sebagai ganti umrah yang engkau ingin memperolehnya secara terpisah, tidak tergabung dalam haji, hanya saja haid menghalangimu melakukannya.
Penjelasan: العربية
معنى حديث عائشة رضي الله عنها : "خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لا نَذْكُرُ إلا الحج". أي: من المدينة وكان خروجه صلى الله عليه وسلم يوم السَبت لخمس ليالٍ بَقَيْنَ من ذي القِعدة بعد أن صلى بها الظهر أربع ركعات، ثم سَار إلى ذي الحليفة فَصَلى بها العصر ركعتين. "لا نَذْكُرُ إلا الحج". وفي رواية :"لا نَرَى إلا الحج". لكن جاء عنها في حديث آخر صحيح: "فمنَّا من أهَلَّ بِعمرة، ومنَّا من أهَلَّ بحج، وكنت ممن أَهَلَّ بِعمرة"، وعلى هذا يكون قولها رضي الله عنها : "لا نَذْكر إلا الحج"، وقولها: "لا نَرى إلا الحج" لا يخلو من الأحوال التالية: الحال الأولى: تريد بذلك فريضة الحج من حيث الأصل، لا بيان نوع النُّسك الذي أحرموا به. الحال الثانية: تريد بذلك عند خروجهم وقبل وصولهم إلى الميقات، والدخول في الإحرام. الحال الثالثة : تريد بذلك حال غيرها من الصحابة، ولم تقصد نفسها. "حتى جِئْنَا سَرِف". يعني: حتى وصلوا موضِعا يُقال له: "سَرِفُ"، وهو مَوضع قريب من مكة. "فَطَمِثْتُ" يعني: حاضت رضي الله عنها . "فدخل عليَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبْكِي، فقال: «ما يُبْكِيك؟» فقلت: والله، لوَدِدْتُ أنَّي لم أكُن خرجت العَام". لما حصل معها ما حصل بَكَت رضي الله عنها وتَمَنَّت أنها لم تحج معهم هذه السَّنة؛ ظنا منها أنها لما حاضت قد تنقطع عن أعمال الحج، ويفوتها بذلك الخير. " قال: «ما لك؟ لَعَلَّكِ نَفِسْتِ؟»". أي: حِضْت . " قلت: نعم، قال: «هذا شيء كَتَبه الله على بَنَات آدم»". أي: أن الحيض أمْر مُقَدَّر ومكتوب على بنات آدم، فليس خاصًا بك وليس بيدك؛ فلا داعي للبكاء. "افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تَطُوفي بالبيت حتى تَطْهُري". فأخبرها النبي صلى الله عليه وسلم بأن الحيض لا يمنعها من المضي في نسكها، ولا يُخِلُّ بإحرامها، وأنها تفعل ما يفعله الحاج: من الوقوف بعرفة ومنى ومزدلفة ورمي الجماروسائر أفعال الحج غير الطواف، فإنها تمتنع منه حتى تَطْهر من حيضها وتغتسل. "قالت: فلمَّا قَدمت مكة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأصحابه «اجْعَلُوها عُمرة»". تعني لما قَدِم النبي صلى الله عليه وسلم مكة أمَر من لم يسوقوا الهدي أن يجعلوا إحرامهم عمرة، فمن أحرم بالحج ولم يكن ساق الهدي فإنه يَقْلب إحرامه بالحج عمرة، فيطوف ويسعى ويقصر، ثم هو قد حَلَّ من إحرامه، وفي رواية أخرى لمسلم: "فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يَحِلَّ منَّا من لم يكن معه هدى، قال: فقلنا: حِلُّ ماذا؟ قال: "الحِلُّ كُلُّه". "قالت: فأحَلَّ الناس إلا من كان معه الهَدْي، قالت: فكان الهَدْي مع النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وذَوِي اليَسَارَة". تعني أن من لم يكن معه الهدي حلُّوا من إحرامهم بعد أن طافوا وسعوا وقصروا، وبقي النبي صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر رضي الله عنهما ومن ساق الهدي ممن وسَّعَ الله عليهم بقوا على إحرامهم؛ لأنهم ساقوا الهدي ومن ساق الهدي لم يَجز له فسخ إحرامه إلى عمرة؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : "لولا أني سُقْتُ الهَدْي، لفعلت مثل الذي أمَرْتُكم به". "قالت: ثم أهَلُّوا حين راحُوا". تعني أن الذين طافوا وسعوا وقصروا، أهلوا بالحج حين راحُوا إلى منى وذلك يوم التروية، وهو اليوم الثامن من ذي الحِجة. "قالت: فلمَّا كان يوم النَّحر طَهَرْت". أي: أنها طَهَرت من حيضها يوم النحر، وهو يوم العاشر من ذِي الحِجَّة، سُمي بذلك؛ لنَحر الأضاحي فيه. "فأمَرَني رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَفَضْتُ". أي: بعد أن طَهَرت من حيضها رضي الله عنها يوم النَّحر أمَرَها النبي صلى الله عليه وسلم بأداء طواف الإفاضة فَفَعَلت. "قالت: فَأُتِيَنَا بِلَحم بَقَر، فقلت: ما هذا؟". يعني: أُرسل لها ولمن معها من النساء لحم بقر، ثم إنها سَألت عنه. "فقالوا: أَهْدَى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن نِسَائه البَقر". أي: أن النبي صلى الله عليه وسلم نَحَر عن كل واحدة من نسائه بقرة. "فلمَّا كانت ليلة الحَصْبَةِ". يعني لمَّا كانت ليلة النزول من منى، وهي الليلة التي بعد أيام التشريق وسميت بذلك؛ لأنهم نَفَروا من منى فنزلوا في المُحَصَّب وباتوا به، وفي البخاري : "أن النبي صلى الله عليه وسلم رقَد رقْدَةً في المُحصَّب، ثم ركِبَ إلى البيت فطاف به". "قلت: يا رسول الله، يرجع الناس بِحَجَّة وعُمرة وأرجع بِحَجَّة؟". أي يرجعون بحج منفرد وعمرة منفردة؛ لأنهم كانوا متمتعين، وأرجع أنا وليس لي عمرة منفردة؛ لأنها كانت قارنة، والعمرة في القران داخلة في الحج بالنية، وفي رواية لمسلم "أيرجع الناس بأجرين وأرجع بأجر؟"، فهي أرادت أن يكون لها عمرة منفردة عن الحج، كما حصل لسائر أمهات المؤمنين وغيرهن من الصحابة الذين فسخوا الحج إلى العمرة، وأتموا العمرة وتحللوا منها قبل يوم التروية، ثم أحرموا بالحج من مكة يوم التروية، فحصل لهم عمرة منفردة وحجة منفردة، وأما عائشة فإنما حصل لها عمرة مندرجة في حجة بالقران، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم يوم النفر يسعك طوافك لحجك وعمرتك، أي: وقد تما وحسبا لك جميعا، فأبت وأرادت عمرة منفردة كما حصل لباقي الناس. "قالت: فأمر عبد الرحمن بن أبي بكر، فَأَرْدَفَنِي على جَمَلِه". أي : أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر أخاها عبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنهما بأن يخرج بها إلى التَّنْعِيم؛ لتأتي منه بعمرة، حتى تكون مثل بقية الناس، فأردفَها رضي الله عنه خَلفه كما في رواية مسلم الأخرى. "قالت: فإني لأذْكُر، وأنا جَارية حَدِيثَةُ السِّن، أَنْعَسُ فيُصِيب وجْهِي مُؤْخِرَة الرَّحْل". أي: عندما أردفها عبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنه خلفه، وسار بها إلى التنعيم كانت تَنْعَس حتى أنها رأسها يسقط من شِدَّة النُّعاس، فيضرب في مؤخرة الرَّحْل. "حتى جِئْنَا إلى التَّنْعِيم، فَأَهْلَلْتُ منها بِعُمْرة؛ جزاء بِعُمْرَة الناس التي اعْتَمَرُوا". أي لما وصلا إلى التنعيم، أهلت رضي الله عنها بعمرة مستقلة بأعمالها مقام عمرة الناس التي اعتمروها أولا. وفي رواية في الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لها بعد أن أدَّت العمرة : "هذه مكان عمرتك" أي: هذه العمرة مكان العمرة التي كنت تريدين حصولها منفردة غير مندرجة مع الحج، فمنعك الحيض من القيام بها.
- مشروعية خروج النساء للحج متى ما توفرت شروطه، ومنها المحرم.
- جواز السفر يوم السبت، وكانت أكثر أسفاره -صلى الله عليه وسلم- يوم الخميس.
- جواز استعمال: "لو" إذا لم يترتب عليها محذور شرعي، ويؤكده قوله -صلى الله عليه وسلم-: "لو استقبلت من أمري ما استدبرت" الحديث.
- حرص عائشة -رضي الله عنها- على إكمال الطاعة على أفضل وجه، ولهذا تمنت أنها لم تحج معهم تلك السَّنة، ظنًّا منها أنها لن تكمل نسكها؛ بسبب حيضها.
- تسمية الحيض نفاساً.
- أنه ينبغي تَسْلِية المُصَاب بذكر ما كان مثل مُصيبته أو أشد.
- أن دم الحيض دم طبيعة بخلاف من قال أنه دَم عقوبة عُوقبت به نساء بني إسرائيل، والحديث يرده؛ لأنه قال: "كتبه الله على بنات آدم".
- أن ما قُدِّر على بَني آدم رجالهم ونِسَائهم لا يمكن تخلُّفه بحال من الأحوال.
- صحة جميع أعمال الحج من الحائض والنفساء: من الوقوف بعرفة، والمبيت بمزدلفة، ورمي الجمار، والمبيت بمنى، والسعي بين الصفا والمروة.
- إدخال الحج على العمرة؛ لأن عائشة -رضي الله عنها- أحرمت بعمرة وعندما حاضَت مُنعت من الطواف لأداء العمرة؛ فأدخلت الحج على العمرة، فصارت قارنة.
- أن جميع أعمال الحج لا تُشترط لها الطهارة من الحَدَث الأكبر عدا الطواف بالبيت.
- اشتراط الطهارة من الحدث الأكبر للطواف؛ لقوله -صلى الله عليه وسلم-: (غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري) فدل ذلك على أن الطهارة شرط لصحة الطواف.
- لا تشترط الطهارة للإحرام، فيصح أن يحرم الإنسان وهو على غير طهارة، والأفضل أن يكون على طهارة إن أمكن ذلك.
- أن الحائض ممنوعة من دخول المسجد.
- قَلْب الإحرام بالحج إلى عمرة؛ لقوله -صلى الله عليه وسلم-: (اجْعَلُوها عُمرة) وكان ذلك واجبًا على الصحابة -رضي الله عنهم- في ذلك العام.
- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- كان قارنا في حَجَّته.
- أن أبا بَكر وعمر وجمع من الصحابة -رضي الله عنهم- المَيْسُوِرين منهم قَرَنوا بين الحج والعُمرة.
- أن الأفضل في حق من كان بمكة أن يُحرم بالحج يوم التروية ولا يُقَدِّمه عليه؛ لقولها -رضي الله عنها-: "أحرموا حين راحُوا"، ورواحهم كان يوم الثامن، وهو يوم التروية.
- استحباب المُبادرة بطواف الإفاضة يوم النَّحَر.
- لا حرج في السؤال عمَّا خَفِي أمره؛ لأن عائشة -رضي الله عنها- سألت عن اللحم الذي أرسل لها؛ لجهلها بحاله.
- جواز إهداء البقر.
- وجوب الهَدي على القَارن؛ لأن عائشة -رضي الله عنها- حَجَّت قارنة وأهدى عنها -عليه الصلاة والسلام-.
- لا يلزم الزوج أن يهدي زوجته، وما فعله -صلى الله عليه وسلم- مع نسائه، فهذا من كريم خلقه، وحسن عشرته.
- نزوله -صلى الله عليه وسلم- المُحَصَّب؛ لكونه أسمح لخروجه، ولا علاقة له بالمناسك إلا من جهة التخفيف على الحجيج.
- دليل على جواز الإرْدَاف إذا كانت الدَّابة مُطيقة، وقد تظاهرت الأحاديث الصحيحة بذلك .
- جواز إردَاف الرجل المرأة إذا كانت من محارمه والخلوة بها.
- وجوب خروج المكي ومن أخذ حكمه من مكة، إذا أراد أن يحرم بعمرة، فيخرج إلى أدنى الحِل، سواء كان التنعيم أو غيره.