Ar-Risalah
Hadis

Siapa yang bersumpah dengan suatu sumpah secara dusta untuk merampas harta seorang muslim, niscaya ia bertemu Allah sedang Dia murka kepadanya

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihMuttafaq 'alaih

Teks Arab

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ وَهُوَ فِيهَا فَاجِرٌ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ». قَالَ: فَقَالَ الْأَشْعَثُ: فِيَّ وَاللَّهِ كَانَ ذَلِكَ؛ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنَ الْيَهُودِ أَرْضٌ، فَجَحَدَنِي، فَقَدَّمْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟» قُلْتُ: لَا. قَالَ: فَقَالَ لِلْيَهُودِيِّ: «احْلِفْ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِذَنْ يَحْلِفَ وَيَذْهَبَ بِمَالِي. فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا}. إِلَى آخِرِ الْآيَةِ.

Terjemahan

Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bersumpah dengan suatu sumpah secara dusta untuk merampas harta seorang muslim, niscaya ia bertemu Allah sedang Dia murka kepadanya." Al-Asy'aṡ berkata, "Demi Allah! Hal itu terjadi padaku. Saat itu, antara aku dengan seorang laki-laki Yahudi terjadi sengketa sebidang tanah, tetapi dia mengingkari hakku. Maka aku membawanya kepada Nabi ﷺ, lalu Rasulullah ﷺ berkata kepadaku, 'Apakah engkau memiliki bukti?' Aku menjawab, 'Tidak.' Sehingga beliau berkata kepada Yahudi itu, 'Bersumpahlah.' Aku mengatakan, 'Wahai Rasulullah! Kalau begitu, dia akan bersumpah dan mengambil hartaku.' Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat: 'Sesungguhnya orang-orang yang menukar perjanjiannya terhadap Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit ....'" (QS. Āli 'Imrān :77)

Penjelasan

Nabi ﷺ memberi peringatan agar tidak bersumpah dengan nama Allah pada suatu sumpah sementara orang yang bersumpah tahu bahwa ia berdusta di dalamnya untuk mengambil harta milik orang lain karena ia akan menjumpai Allah dalam kondisi dimurkai-Nya. Lalu al-Asy'aṡ bin Qais -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan hal itu ketika terjadi sengketa antara dia dan seorang laki-laki Yahudi terkait kepemilikan tanah, lalu keduanya pergi mencari keputusan kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya kepada al-Asy'aṡ: Kamu harus menghadirkan bukti untuk menetapkan apa yang kamu klaim. Jika kamu tidak bisa mendatangkan bukti, maka kamu hanya menunggu sumpah lawanmu yang kamu laporkan. Al-Asy'aṡ berkata: Wahai Rasulullah! Kalau begitu, laki-laki Yahudi ini akan bersumpah dengan bersikap tidak warak sehingga ia mengambil hartaku. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat dalam Al-Qur`an yang membenarkan hal itu: "(Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan), yakni menukar .. (janji Allah), yaitu wasiat Allah kepada orang beriman agar menunaikan amanah .. (dan sumpah-sumpah mereka), yaitu sumpah mereka dengan nama Allah secara dusta .. (dengan harga murah), berupa kenikmatan dunia .. (mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat), serta tidak pula mendapat jatah .. (Allah tidak akan menyapa mereka) dengan ucapan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk mereka, tetapi Allah marah kepada mereka .. (tidak akan memandang mereka pada hari Kiamat) dengan pandangan rahmat dan kebaikan .. (dan tidak akan menyucikan mereka) dengan pujian yang baik serta tidak akan membersihkan mereka dari dosa dan kesalahan melalui ampunan .. (Bagi mereka azab yang pedih), yaitu azab yang menyakitkan disebabkan kesalahan yang mereka perbuat."

Pelajaran

  • 1- Larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil.
  • 2- Mempertegas hak kaum muslimin pada sesuatu yang sedikit maupun banyak.
  • 3- Bukti didatangkan oleh orang yang menuduh dan sumpah diucapkan oleh orang yang dituduh jika ia mengingkari.
  • 4- Terbuktinya suatu hak dengan menghadirkan dua saksi. Jika orang yang menuduh tidak memiliki bukti maka hak itu menjadi milik orang yang tertuduh melalui sumpahnya.
  • 5- Haramnya sumpah al-gamūs, yaitu sumpah dusta yang digunakan untuk merampas hak orang lain. Perbuatan ini termasuk dosa besar yang menjerumuskan pelakunya pada murka dan siksa Allah Ta'ala.
  • 6- Nasihat seorang hakim kepada pihak-pihak yang bersengketa, terutama ketika hendak bersumpah.
Penjelasan: العربية

حذَّر النبيُّ صلى الله عليه وسلم من الحلف بالله على يمين مع علم الحالف أنه كاذب فيها، لِيَحُوْزَ بهذه اليمين مالًا لغيره؛ فسيلقى الله وهو عليه غضبان، فأخبر الأشعث بن قيس رضي الله عنه بأن النبي صلى الله عليه وسلم قال ذلك حيث كانت بينه وبين رجل من اليهود خصومة في ملكية أرض، فاحتكما إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال للأشعث: عليك البينة لِيَثْبُتَ لك ما تدَّعيه، فإن عجزت عنها فليس لك إلا يمين خصمك المُدّعى عليه، فقال الأشعث: يا رسول الله، إذن يحلف الرجل اليهودي ولا يتورّع ويذهب بمالي، فأنزل الله تعالى تصديق ذلك في القرآن قوله سبحانه: {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ} ويستبدلون {بِعَهْدِ اللَّهِ}، ووصيته للمؤمنين بأداء الأمانة {وَأَيْمَانِهِمْ} وحلفهم باسمه كاذبين {ثَمَنًا قَلِيلًا} من حطام الدنيا {أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ} ولا نصيب {وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ}، بكلامٍ يسرُّهم وينفعهم، بل غضب عليهم، {وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}، نظر رحمة وإحسان، {وَلَا يُزَكِّيهِمْ} بالثناء الجميل، ولا يطهرهم بالمغفرة من الذنوب والأدناس {وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} موجع بسبب ما ارتكبوه.

  • النهي عن استحلال أموال الناس بالباطل.
  • تغليظ حقوق المسلمين في قليل الحق وكثيره.
  • البينة على المدَّعِي، واليمين على المدَّعَى عليه إذا أنكر.
  • ثبوت الحق بالشاهدين، فإن لم توجد البينة عند المدّعِي، فعلى المدّعى عليه باليمين.
  • تحريم اليمين (الغموس) وهي الكاذبة التي يقتطع بها الحالف حق غيره، وهي من الكبائر، التي تعرض صاحبها لغضب الله تعالى وعقابه.
  • موعظة الحاكم للخصوم، خصوصًا عند إرادة الحلف.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya