Ar-Risalah
Hadis

Subḥānallāh. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihMuttafaq 'alaih

Teks Arab

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنه: أَنَّهُ لَقِيَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَانْسَلَّ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ، فَتَفَقَّدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا جَاءَهُ قَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَقِيتَنِي وَأَنَا جُنُبٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغْتَسِلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سُبْحَانَ اللهِ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ».

Terjemahan

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berpapasan dengannya di salah satu jalan kota Madinah, sementara saat itu dia sedang junub. Maka ia pun menyelinap pergi untuk mandi. Nabi ﷺ lalu mencarinya. Ketika ia kembali, beliau bertanya, "Ke mana saja engkau, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, tadi engkau bertemu denganku sementara aku sedang junub, maka aku tidak ingin duduk bersamamu sebelum mandi." Lantas beliau bersabda, "Subḥānallāh. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis."

Penjelasan

Nabi ﷺ bertemu Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- di salah satu jalan di Madinah, sementara Abu Hurairah dalam keadaan junub. Karena begitu besar penghormatannya kepada Nabi ﷺ, ia tidak ingin untuk duduk atau berbicara dengan beliau dalam keadaan seperti itu, karena ia menyangka bahwa dirinya bernajis. Lantas ia pun diam-diam pergi, lalu mandi, kemudian kembali dan duduk bersama beliau. Lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya ke mana ia tadi pergi? Abu Hurairah pun memberitahu keadaannya, bahwa ia tidak ingin duduk bersamanya saat sedang bernajis karena sebab junub. Mendengar hal itu, Nabi ﷺ merasa heran, lalu berkata kepadanya, "Orang beriman itu suci, tidak najis di setiap keadaan, baik ketika hidup maupun setelah mati."

Pelajaran

  • 1- Keadaan junub hanya menghalangi seseorang dari melaksanakan salat, menyentuh mushaf, dan berdiam diri di dalam masjid. Namun, tidak menghalangi untuk duduk bersama kaum muslimin dan bertemu dengan mereka. Seseorang yang sedang junub tidak menjadi bernajis karenanya.
  • 2- Orang beriman tetap suci ketika hidup dan setelah mati.
  • 3- Memuliakan orang-orang mulia, berilmu, dan saleh serta duduk bersama mereka dalam keadaan yang paling baik.
  • 4- Seorang pengikut disyariatkan untuk meminta izin kepada pemimpin sebelum meninggalkan majelis. Nabi ﷺ telah menegur Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- lantaran pergi tanpa sepengetahuannya, karena meminta izin merupakan bagian dari adab yang baik.
  • 5- Mengucapkan "subḥānallāh" ketika heran.
  • 6- Bolehnya seseorang menceritakan sesuatu yang bisa membuat dirinya malu untuk suatu kepentingan.
  • 7- Orang kafir najis, tetapi najisnya bersifat maknawi karena keburukan akidahnya.
  • 8- Imam an-Nawawiy berkata, "Di dalam hadis ini juga terdapat pelajaran adab, yaitu apabila seorang alim (guru) melihat pada pengikutnya ada sesuatu yang dikhawatirkan menyelisihi kebenaran, maka hendaknya ia menanyakannya, kemudian menjelaskan hal yang benar serta menerangkan hukumnya. Wallāhu a'lam."
Penjelasan: العربية

لقي النبيُّ صلى الله عليه وسلم أبا هريرة رضي الله عنه في بعض طرق المدينة، وكان أبو هريرة على جنابة، ومن تعظيمه للنبي صلى الله عليه وسلم كره مجالسته ومحادثته وهو على تلك الحال ظنًّا منه أنه نجس، فذهب في خُفية واغتسل، ثم رجع وجلس، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم أين ذهب؟ فأخبره بحاله، وأنه كره مجالسته وهو نجس من الجنابة، فتعجب النبي صلى الله عليه وسلم وقال له: إن المؤمن طاهر ولا ينجس على كل حال؛ حيًّا ولا ميتًا.

  • الجنابة إنما تمنع من الصلاة ومس المصحف والمكوث في المسجد، ولا تمنع من مجالسة المسلمين ومقابلتهم، ولا يصير بها الجنب نجسًا.
  • طهارة المؤمن حيًّا وميتًا.
  • تعظيم أهل الفضل، والعلم، والصلاح، ومجالستهم على أحسن الهيئات.
  • مشروعية استئذان التابع للمتبوع في الانصراف، فقد أنكر النبي صلى الله عليه وسلم على أبي هريرة رضي الله عنه، ذهابه من غير علمه، وذلك أن الاستئذان من حسن الأدب.
  • قول: سبحان الله، عند التعجب.
  • جواز تحدث الإنسان عن نفسه بما يُستحيا منه للمصلحة.
  • الكافر نجس، لكن نجاسته معنوية لخبث عقيدته.
  • قال النووي: وفي هذا الحديث أيضًا من الآداب أن العالم إذا رأى من تابعه أمرًا يخاف عليه فيه خلاف الصواب سأله عنه، وقال له صوابه، وبين له حكمه، والله أعلم. ‏

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya