Ar-Risalah
Hadis

Ganimah tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ganimah untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. Dia pun menghalalkannya untuk kita.

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

Hadis sahihMuttafaq 'alaih

Teks Arab

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «غَزَا نَبِيٌّ مِن الأَنبِيَاء -صلوات الله وسلامه عليهم- فقال لقومه: لاَ يَتبَعَنِّي رجُل مَلَك بُضْعَ امرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أنْ يَبنِي بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلاَ أحَدٌ بَنَى بُيُوتًا لم يَرفَع سُقُوفَهَا، ولاَ أَحَدٌ اشتَرَى غَنَمًا أو خَلِفَات وهو يَنتظِرُ أَولاَدَها، فَغَزَا فَدَنَا مِنَ القَريَةِ صَلاةَ العَصر أو قَرِيباً مِن ذلك، فَقَال للشَّمسِ: إِنَّك مَأمُورَة وأَنَا مَأمُور، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَينَا، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ الله عليه، فَجَمَع الغَنَائِم فَجَاءَت -يعني النار- لِتَأكُلَهَا فَلَم تَطعَمها، فقال: إِنَّ فِيكُم غُلُولاً، فَليُبَايعنِي مِنْ كُلِّ قَبِيلَة رجل، فَلَزِقَت يد رجل بِيَدِهِ فقال: فِيكُم الغُلُول فلتبايعني قبيلتك، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة بيده، فقال: فيكم الغلول، فَجَاؤوا بِرَأس مثل رأس بَقَرَةٍ من الذَّهَب، فَوَضَعَهَا فجاءت النَّارُ فَأَكَلَتهَا، فَلَم تَحِلَّ الغَنَائِم لأحَدٍ قَبلَنَا، ثُمَّ أَحَلَّ الله لَنَا الغَنَائِم لَمَّا رَأَى ضَعفَنَا وَعَجزَنَا فَأَحَلَّهَا لَنَا».

Terjemahan

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Ada salah seorang di antara para Nabi -ṣalawātullāh wa salāmuhu 'alaihim- berperang lalu berkata kepada kaumnya, "Jangan mengikutiku (berperang) seorang lelaki yang baru menikah, dan ia ingin menggauli istrinya, sementara ia belum melakukannya. Tidak juga seorang yang membangun rumah sedangkan ia belum selesai memasang atapnya. Dan tidak pula seorang yang baru membeli kambing atau unta yang sedang bunting dan ia menunggu kelahiran anaknya." Lantas Nabi itu berangkat perang dan ketika mendekati negeri (yang diperangi) pada waktu salat Asar atau mendekati waktu itu, Nabi itu berkata kepada matahari, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah. Ya Allah, tahanlah matahari itu untuk kami. Kemudian matahari itu pun tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Lalu Nabi itu mengumpulkan harta rampasan perang kemudian datanglah -yaitu api- untuk melahapnya, tetapi api itu tidak dapat melahapnya. Nabi itu berkata, "Sesungguhnya di antara kalian ada yang berbuat gulūl (menyembunyikan harta rampasan perang), maka setiap kabilah harus mengirimkan seorang laki-laki untuk berbaiat kepadaku." Lantas ada seorang laki-laki yang tangannya lekat dengan tangan Nabi itu, maka Nabi itu berkata, "Sesungguhnya di kalangan kabilahmu ada yang berbuat gulul, oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu memberikan pembaiatan kepadaku." Kemudian ada dua atau tiga orang (dari kabilah tersebut) yang tangannya lekat dengan tangan Nabi itu, lalu Nabi itu berkata, "Dari kalanganmu ada yang berbuat gulul." Lalu mereka membawa emas sebesar kepala sapi, kemudian meletakannya. Lantas datanglah api dan melahapnya. Ganimah tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ganimah untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. Dia pun menghalalkannya untuk kita."

Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan tentang salah seorang Nabi -'alaihim aṣ-ṣalātu wa as-salām- yang memerangi suatu kaum yang diperintahkan untuk diperangi. Hanya saja Nabi tersebut -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- melarang (untuk ikut berperang) setiap orang yang baru melangsungkan akad nikah dan belum sempat menggauli istrinya, setiap orang yang membangun rumah dan belum memasang atap rumahnya, dan setiap orang yang membeli kambing atau unta bunting dan dia sedang menunggu kelahiran anak-anaknya. Hal itu karena orang-orang tersebut akan sibuk dengan hal yang menjadi perhatian mereka. Seorang laki-laki yang sudah menikah akan sibuk dengan istrinya yang belum digaulinya, sehingga dia selalu merindukannya. Demikian juga orang yang membangun rumah dan belum memasang atapnya, maka dia pun akan sibuk (memikirkan) rumahnya yang ingin ditempatinya bersama keluarganya. Begitu pula pemilik unta-unta bunting dan kambing, ia akan sibuk dengannya karena menunggu kelahiran anak-anaknya. Padahal jihad itu harus dilakukan oleh orang yang mencurahkan perhatian kepadanya; tidak ada keinginan selain jihad. Kemudian Nabi ini berangkat perang dan sampai ke tempat kaum (yang akan diperangi) setelah salat Asar serta malam sudah mendekat. Ia pun takut jika malam sudah tiba maka tidak akan ada kemenangan. Lantas dia berseru kepada matahari dengan mengatakan, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah." Hanya saja, perintah kepada matahari berupa perintah alami sedangkan perintah kepada Nabi itu merupakan perintah syariat. Nabi itu diperintahkan untuk berjihad, sedangkan matahari diperintahkan untuk berjalan sesuai dengan perintah Allah -'Azza wa Jalla-. Allah berfirman, "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui." Matahari berjalan sejak pertama kali Allah - 'Azza wa Jalla- menciptakannya, ia berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadanya; tidak maju dan tidak lambat, tidak turun dan tidak naik (tanpa perintah-Nya). Nabi ini berdoa, "Ya Allah, tahanlah jalannya matahari itu untuk kami." Allah pun menahan matahari sehingga tidak terbenam pada waktunya sampai Nabi tersebut melancarkan pertempuran dan memperoleh ganimah yang banyak. Ketika Nabi tersebut sudah mendapatkan ganimah (Padahal ganimah itu pada umat-umat terdahulu tidak dihalalkan untuk para pejuang, tetapi kehalalan ganimah adalah bagian dari kekhususan umat ini, -segala puji hanya milik Allah-. Adapun umat terdahulu, mereka mengumpulkan harta-harta rampasan perang lalu api turun kepadanya dari langit kemudian membakarnya, jika Allah menerimanya) maka ganimah itu dikumpulkan, tetapi api tidak turun dari langit dan tidak melahapnya. Nabi itu pun berkata, "Di antara kalian ada yang melakukan gulul (menyembunyikan ganimah)." Kemudian ia memerintahkan agar dari setiap kabilah ada seorang yang maju untuk berbaiat kepadanya bahwa dia tidak melakukan gulul. Setelah mereka membaiatnya bahwa dirinya tidak melakukan gulul, tangan salah seorang dari mereka menempel di tangan Nabi ini -'alaihiṣ ṣalātu was salām-. Ketika menempel, ia berkata, "Di antara kalian ada yang melakukan gulul." Yakni dari kabilah laki-laki tersebut. Selanjutnya, Nabi tersebut memerintahkan setiap orang dari kabilah tersebut agar berbait. Lantas ada dua atau tiga orang dari mereka yang tangannya menempel. Nabi itu pun berkata, “Di antara kalian ada yang melakukan gulul. Lantas mereka membawa ganimah yang disembunyikan. Ternyata mereka telah menyembunyikan emas sebesar kepala sapi. Setelah barang itu dibawa dan diletakkan bersama ganimah lainnya, api pun membakarnya.

Penjelasan: العربية

أخبر النبي صلى الله عليه وسلم عن نبي من الأنبياء -عليهم الصلاة والسلام- أنه غزا قومًا أُمِر بجهادهم، لكنه -عليه الصلاة والسلام- مَنَع كل إنسان عَقَد على امرأة ولم يَدخُل بها، وكل إنسان بنى بيتًا ولم يرفع سقفه، وكل إنسان اشترى غنمًا أو خَلِفَات وهو ينتظر أولادها، وذلك لأَنَّ هؤلاء يكونون مشغولين بما أهمهم، فالرجل المتزوج مشغول بزوجته التي لم يدخل بها، فهو في شوق إليها، وكذلك الرجل الذي رفع بيتًا ولم يُسَقِّفه، هو أيضا مشتغل بهذا البيت الذي يريد أن يسكنه هو وأهله، وكذلك صاحب الخلفات والغنم مشغول بها ينتظر أولادها. والجهاد ينبغي أن يكون الإنسان فيه مُتَفَرِّغًا، ليس له همٌّ إلا الجهاد، ثم إن هذا النبي غزا، فنَزَل بالقوم بعد صلاة العصر، وقد أَقْبَل اللَّيل، وخاف إن أظلَم اللَّيلُ أن لا يكون هناك انتصار، فجعل يخاطب الشمس يقول: أنت مأمورة وأنا مأمور، لكن أمر الشمس أمر كوني وأما أمره فأمر شرعي. فهو مأمور بالجهاد والشمس مأمورة أن تسير حيث أمرها الله عز وجل، قال الله: (والشمس تجري لمستقر لها ذلك تقدير العزيز العليم)، منذ خلقها الله عز وجل وهي سائرة حيث أمرت لا تتقدم ولا تتأخر ولا تنزل ولا ترتفع. قال: "اللهم فاحبسها عنا" فحبس الله الشمس ولم تغب في وقتها، حتى غزا هذا النبي وغنم غنائم كثيرة، ولما غنم الغنائم وكانت الغنائم في الأمم السابقة لا تحل للغزاة، بل حل الغنائم من خصائص هذه الأمة ولله الحمد، أما الأمم السابقة فكانوا يجمعون الغنائم فتنزل عليها نار من السماء فتحرقها إذا كان الله قد تقبلها، فجُمِعَت الغنائم فنزلت النار ولم تأكلها، فقال هذا النبي: فيكم الغلول. ثم أمر من كل قبيلة أن يتقدَّم واحد يبايعه على أنَّه لا غُلُول، فلمَّا بايعوه على أنَّه لا غلول لَزِقَت يد أحد منهم بيدِ النبي -عليه الصلاة والسلام-، فلمَّا لَزِقَت قال: فيكم الغلول -أي: هذه القبيلة- ثم أمر بأن يبايعه كل واحد على حدة من هذه القبيلة، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة منهم، فقال: فيكم الغلول: فجاؤوا به، فإذا هُم قد أخفوا مثل رأس الثور من الذهب، فلمَّا جيء به ووضع مع الغنائم أكلتها النار.

  • الجهاد مشروع في الأمم السابقة، كما هو مشروع في هذه الأمة.
  • نهي النبي قومه عن اتباعه على أحد هذه الأحوال؛ لأن أصحابها يكونون متعلقي النفوس بهذه الأسباب، فتضعف عزائمهم وتفتر رغباتهم في الجهاد والشهادة.
  • مقصود النبي من توجيهاته تفرغ أصحابه من العوائق والأشغال ليقبلوا على الجهاد بنية صادقة وعزم حازم.
  • كفاية المجاهدين أمور الدنيا ليتفرغوا للجهاد بصدق.
  • تنوُّع الأمر إلى نوعين: أمر تكويني قدري وآخر تكليفي شرعي، فأمر الجمادات أمر تسخير وتكوين، أي قول النبي للشمس: احتبسي وانتظري، أي بتقدير الله، فهو مثل الدعاء لله بحصول هذا الشيء، وأمر العقلاء أمر تكليف، مثل قوله تعالى: (كتب عليكم القتال) (أطيعوا الله).
  • ثبوت المعجزات للأنبياء عليهم الصلاة والسلام.
  • كان للغلول أثر في قبول الغنائم في الأمم السالفة من رَدِّها، فمتى وُجِد الغُلُول لم يقبلها الله سبحانه، ومتى لم يوجد قبُلِت، وأباح الله لهذ الأمة الغنائم بدون شرط.
  • شهوات الدنيا تدعو النفس إلى محبة البقاء فيها.
  • الأمور المهمة لا ينبغي أن تُفَوَّض سياستها إلا لحازم فارغ البال، ولذلك كان مقصود النبي تفرغهم من العوائق والأشغال ليقبلوا على الجهاد بنية صادقة وعزم حازم.
  • سَتَر الله هذه الأمة ورحمها بخلاف الأمم السابقة، فقد كان من يفعل غلولا أو معصية يفضحه الله، فلله الحمد والمنة على الإسلام والسنة.
  • ينبغي للإنسان إذا أراد طاعة أن يفرغ قلبه وبدنه لها، حتى يأتيها وهو مشتاق إليها، وحتى يؤديها على مهل وطمأنينة وانشراح صدر.
  • الدلالة على عظمة الله عز وجل، وأنه هو مدبر الكون، وأنه تعالى يجري الأمور على غير طبائعها، إما لتأييد الرسول، أو لدفع شر عنه، وإما لمصلحة في الإسلام.
  • الحديث رد على أهل الطبيعة الذين يقولون: إن الأفلاك لا تتغير؟! .
  • الأنبياء لا يعلمون الغيب إلا ما أطلعهم الله عليه.
  • الدلالة على قدرة الله من جهة أن هذه النار لا يدرى كيف أوقدت، بل تنزل من السماء، لا هي من أشجار الأرض، ولا من حطب الأرض، بل من السماء يأمرها الله فتنزل فتأكل هذه الغنيمة التي جمعت.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya