Ar-Risalah
Hadis

Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihHR. Muslim

Teks Arab

عَنْ صُهَيْبٍ رَضيَ اللهُ عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ، فَلَمَّا كَبِرَ، قَالَ لِلْمَلِكِ: إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ، فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلَامًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ، فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلَامًا يُعَلِّمُهُ، فَكَانَ فِي طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلَامَهُ، فَأَعْجَبَهُ، فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ، فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ، فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ، فَقَالَ: إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ، فَقُلْ: حَبَسَنِي أَهْلِي، وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ: حَبَسَنِي السَّاحِرُ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتِ النَّاسَ، فَقَالَ: الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمِ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ؟ فَأَخَذَ حَجَرًا، فَقَالَ: اللهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ، حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ، فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا، وَمَضَى النَّاسُ، فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ: أَيْ بُنَيَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّي، قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى، وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى، فَإِنِ ابْتُلِيتَ فَلَا تَدُلَّ عَلَيَّ، وَكَانَ الْغُلَامُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ، وَيُدَاوِي النَّاسَ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوَاءِ، فَسَمِعَ جَلِيسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِيَ، فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ، فَقَالَ: مَا هَاهُنَا لَكَ أَجْمَعُ، إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي، فَقَالَ: إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ، فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللهِ دَعَوْتُ اللهَ فَشَفَاكَ، فَآمَنَ بِاللهِ فَشَفَاهُ اللهُ، فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ؟ قَالَ: رَبِّي، قَالَ: وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي؟ قَالَ: رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلَامِ، فَجِيءَ بِالْغُلَامِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: أَيْ بُنَيَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ، وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ، فَقَالَ: إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ، فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ، فَجِيءَ بِالرَّاهِبِ، فَقِيلَ لَهُ: ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ، فَأَبَى، فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ، فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ، فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ، ثُمَّ جِيءَ بِجَلِيسِ الْمَلِكِ فَقِيلَ لَهُ: ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ، فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ، فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ، ثُمَّ جِيءَ بِالْغُلَامِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ، فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: اذْهَبُوا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا، فَاصْعَدُوا بِهِ الْجَبَلَ، فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ، فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ، وَإِلَّا فَاطْرَحُوهُ، فَذَهَبُوا بِهِ فَصَعِدُوا بِهِ الْجَبَلَ، فَقَالَ: اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ، فَرَجَفَ بِهِمِ الْجَبَلُ فَسَقَطُوا، وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ؟ قَالَ: كَفَانِيهِمُ اللهُ، فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: اذْهَبُوا بِهِ فَاحْمِلُوهُ فِي قُرْقُورٍ، فَتَوَسَّطُوا بِهِ الْبَحْرَ، فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلَّا فَاقْذِفُوهُ، فَذَهَبُوا بِهِ، فَقَالَ: اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ، فَانْكَفَأَتْ بِهِمِ السَّفِينَةُ فَغَرِقُوا، وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ؟ قَالَ: كَفَانِيهِمُ اللهُ، فَقَالَ لِلْمَلِكِ: إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ، قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، وَتَصْلُبُنِي عَلَى جِذْعٍ، ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي، ثُمَّ ضَعِ السَّهْمَ فِي كَبِدِ الْقَوْسِ، ثُمَّ قُلْ: بِاسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ، ثُمَّ ارْمِنِي، فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي، فَجَمَعَ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ، ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ، ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِي كَبْدِ الْقَوْسِ، ثُمَّ قَالَ: بِاسْمِ اللهِ، رَبِّ الْغُلَامِ، ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِي صُدْغِهِ، فَوَضَعَ يَدَهُ فِي صُدْغِهِ فِي مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ، فَقَالَ النَّاسُ: آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ، آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ، آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ، فَأُتِيَ الْمَلِكُ فَقِيلَ لَهُ: أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ؟ قَدْ وَاللهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ، قَدْ آمَنَ النَّاسُ، فَأَمَرَ بِالْأُخْدُودِ فِي أَفْوَاهِ السِّكَكِ، فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيرَانَ، وَقَالَ: مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِينِهِ فَأَحْمُوهُ فِيهَا، أَوْ قِيلَ لَهُ: اقْتَحِمْ، فَفَعَلُوا حَتَّى جَاءَتِ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيهَا، فَقَالَ لَهَا الْغُلَامُ: يَا أُمَّهْ اصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ".

Terjemahan

Ṣuḥaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, 'Aku telah tua, maka kirimlah seorang pemuda kepadaku agar aku dapat mengajarinya sihir.' Lalu raja mengirim seorang pemuda kepadanya. Dalam perjalanannya, pemuda tersebut melewati seorang pendeta. Ia pun menemuinya dan mendengar nasihat-nasihatnya, lalu ia pun menyukainya. Setiap kali hendak pergi ke tukang sihir, ia pasti melewati pendeta itu dan duduk mendengarkan ajarannya. Apabila ia datang terlambat, tukang sihir memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu kepada pendeta. Pendeta berkata, 'Jika engkau takut dipukul tukang sihir, katakan, 'Keluargaku menahanku.' Namun, jika engkau takut pada keluargamu (karena terlambat pulang), katakan, 'Si tukang sihir menahanku.' Pada suatu hari, dalam keadaan seperti biasa, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia berkata, 'Hari ini aku akan mengetahui siapa yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?' Lalu ia mengambil sebuah batu lalu berdoa, 'Ya Allah, jika ajaran pendeta lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia pun melemparnya dengan batu tersebut dan berhasil membunuhnya. Orang-orang pun bisa lewat. Kemudian ia mendatangi pendeta dan menceritakan peristiwa itu. Pendeta berkata, 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih unggul daripadaku. Aku melihat engkau telah mencapai derajat yang tinggi dan engkau pasti akan diuji. Jika engkau diuji, maka jangan menyebutkan namaku.' Pemuda itu dikaruniai kemampuan mengobati orang yang buta dan belang, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya. Salah seorang menteri raja yang buta mendengar kehebatan pemuda itu. Ia pun datang dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, 'Semua yang ada di sini menjadi milikmu jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu.' Akhirnya Sang menteri beriman kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya. Kemudian ia kembali ke istana dan duduk di sisi raja seperti biasanya. Raja berkata, 'Siapa yang menyembuhkan matamu?' Ia menjawab, 'Tuhanku.' Raja berkata, 'Engkau memiliki Tuhan selain aku?' Ia berkata, 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Lalu raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyampaikan perihal pemuda itu. Pemuda itu kemudian dijemput dan dibawa menghadap raja. Raja berkata, 'Wahai anakku, ilmu sihirmu sungguh tinggi sampai bisa menyembuhkan orang buta dan belang, serta engkau bisa melakukan ini dan itu.' Namun pemuda itu menjawab, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan.' Lalu raja menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama sang pendeta. Pendeta pun didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya, kemudian dia dibelah hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Setelah itu, menteri raja didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja meminta gergaji lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya sampai ia terbelah dua hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Selanjutnya pemuda itu didatangkan dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya dan berpesan, 'Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Bawalah ia naik. Jika di puncaknya ia mau meninggalkan agamanya, lepaskan dia. Jika tidak, lemparkan dia dari atas.' Mereka pun membawanya naik hingga ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, Selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Gunung itu pun mengguncang mereka hingga jatuh. Pemuda itu lalu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?' Pemuda itu menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Lalu raja menyerahkannya ke kelompok tentara yang lain. Raja berkata, 'Bawalah ia pergi ke tengah laut, lalu naikkan ia ke sebuah perahu. Jika ia mau meninggalkan agamanya, bawalah ia pulang. Namun jika ia tidak, lemparkan dia.' Mereka pun membawanya ke tengah laut. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Perahu itu akhirnya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pun datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?' Ia menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Maka ia berkata kepada raja, 'Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa yang kau perintahkan?' Pemuda itu berkata, 'Engkau kumpulkan semua orang di satu tanah lapang. Lalu salib aku pada batang kayu. Lalu ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan di tengah busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian bidiklah aku. Jika engkau melakukannya pasti engkau bisa membunuhku.' Raja pun mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, selanjutnya meletakkan anak panah itu di tengah-tengah busur. Kemudian ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian ia membidiknya hingga anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya tepat di tempat panah menancap, lalu ia meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, 'Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu.' Lalu Raja didatangi dan diberi laporan, 'Tahukah Anda apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang telah beriman.' Sebab itu, raja memerintahkan pembuatan parit di jalanan. Parit-parit pun dibuat dan api dinyalakan di dalamnya. Raja berkata, 'Siapa yang tidak mau meninggalkan agamanya, lemparkan dia ke dalamnya.' Atau dikatakan padanya, 'Masuklah.' Mereka pun melaksanakan perintah tersebut. Hingga datang giliran seorang wanita yang membawa bayinya. Ia mundur agar tidak terjatuh dalam parit api. Maka bayi itu berkata, 'Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"

Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa dahulu ada seorang raja di tengah umat sebelum kita. Dia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, "Aku telah tua, maka kirimlah kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajari sihir." Raja pun mengirim seorang pemuda kepadanya untuk diajar. Di jalan yang dilalui oleh pemuda itu ke tukang sihir, ada seorang pendeta. Suatu saat, ia datang menemuinya dan mendengarkan nasihat-nasihatnya, dan ternyata ia menyukainya. Akhirnya, jika ia pergi ke tukang sihir, ia selalu melewati pendeta tersebut dan duduk menyimak pelajarannya. Ketika dia datang terlambat, tukang sihir itu memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu ke pendeta. Pendeta berkata, "Jika kamu takut kepada tukang sihir, katakan, 'Aku ditahan oleh keluargaku.' Namun, jika kamu takut keluargamu, katakan, 'Aku ditahan oleh tukang sihir.'" Suatu hari, ketika ia beraktivitas seperti biasanya, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia pun berkata, "Hari ini aku akan tahu, siapakah yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?" Ia pun mengambil sebuah batu lalu berdoa, "Ya Allah, jika ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir, bunuhlah binatang ini, agar orang-orang dapat lewat." Ia pun melemparnya dan berhasil membunuhnya, sehingga orang-orang pun berhasil lewat. Ia kemudian datang menemui pendeta dan mengabarinya. Pendeta berkata, "Anakku, hari ini engkau telah mengungguliku. Aku melihat urusanmu telah mencapai puncak. Kamu pasti akan diuji. Jika kamu diuji, janganlah engkau menyebut namaku." Pemuda tersebut lalu dianugerahi kemampuan menyembuhkan orang buta dan kusta, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya, dengan izin Allah. Seorang menteri raja yang kehilangan penglihatan mendengar beritanya. Ia pun menemuinya dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, "Semua hadiah yang ada di sini menjadi milikmu jika kamu menyembuhkanku." Pemuda itu menjawab, "Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada Allah, dan Allah akan menyembuhkanmu." Ia pun beriman kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya. Ia kemudian datang menemui raja dan duduk di sisinya sebagaimana biasanya. Raja berkata, "Siapa yang memulihkan penglihatanmu?" Ia menjawab, "Tuhanku." Sontak raja berkata, "Apakah kamu punya Tuhan selainku?" Ia menjawab, "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama pemuda itu. Pemuda itu pun dihadirkan. Raja berkata, "Anakku, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta dan kusta, serta engkau mampu melakukan ini dan itu." Ia menjawab, "Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanya Allah." Raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan nama pendeta. Sang pendeta pun didatangkan, lalu dikatakan kepadanya, "Tinggalkanlah agamamu!" Namun ia menolak. Raja pun meminta gergaji lalu meletakkannya di bagian tengah kepalanya dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian giliran menteri raja dihadirkan. Dikatakan kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Namun ia menolak. Lalu raja meletakkan gergaji di bagian tengah kepalanya lalu membelahnya menjadi dua bagian. Selanjutnya si pemuda dihadirkan. Dikatakan kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya kepada sekelompok tentaranya, sekitar 3-10 orang. Raja berpesan, "Bawa dia ke sebuah gunung, lalu bawa dia ke atas gunung itu. Setelah sampai di puncak, bebaskan dia kalau ia mau meninggalkan agamanya. Jika tidak, jatuhkan dia dari atas." Mereka pun membawanya naik ke atas gunung itu. Pemuda itu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki." Gunung itu pun mengguncang mereka dan bergoyang dahsyat sehingga mereka jatuh. Lalu pemuda itu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu?" Ia menjawab, "Allah melindungiku dari mereka." Raja kemudian menyerahkannya kepada tentaranya yang lain. Ia berpesan, "Bawalah ia pergi. Naikkan ia ke perahu kecil lalu berlayar ke tengah lautan. Bebaskan dia jika dia mau meninggalkan agamanya. Jika tidak, lemparkan dia ke laut." Mereka pun membawanya pergi. Pemuda itu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki." Perahu itu pun terbalik sehingga mereka tenggelam. Lalu ia datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu?" Ia menjawab, "Allah telah menyelamatkanku dari mereka." Pemuda itu berkata kepada raja, "Engkau tidak akan bisa membunuhku hingga melakukan apa yang aku perintahkan." Raja bertanya, "Apa itu?" Ia berkata, "Kumpulkan orang banyak di satu tempat terbuka. Salib aku di sebatang kayu. Ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan anak panah di pegangan busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Setelah itu, bidiklah aku. Jika itu engkau lakukan, engkau akan dapat membunuhku." Lalu raja pun mengumpulkan orang banyak di satu tempat dan menyalibnya di satu batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panah pemuda itu. Kemudian diletakkannya anak panah itu di bagian tengah busur seraya mengucapkan, "Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini." Kemudian ia membidiknya. Anak panah pun tepat mengenai pelipisnya, di antara mata dengan telinganya. Seketika ia meletakkan tangannya di tempat anak panah, dan ia pun meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, "Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini." Lantas raja pun didatangi. Dikatakan kepadanya, "Tahukah Anda tentang apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang mengikuti pemuda itu dan beriman semuanya kepada Tuhannya." Raja pun memerintahkan untuk menggali parit-parit besar yang memanjang di pintu-pintu jalan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, "Siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya, jatuhkan ia ke dalamnya." Mereka pun melaksanakan perintah raja. Hingga datang seorang wanita dengan membawa anak bayinya. Ia berhenti dan diam di tempatnya. Ia tidak mau masuk ke dalam api. Tetapi anak bayinya berkata, "Ibuku, bersabarlah. Sungguh, engkau berada di atas kebenaran."

Pelajaran

  • 1- Menetapkan adanya karamah wali, di antaranya: terbunuhnya binatang yang besar dengan lemparan sang pemuda, dikabulkannya doa sang pemuda sebanyak dua kali, dan anak kecil yang masih menyusu bisa berbicara.
  • 2- Pertolongan untuk orang-orang yang berserah kepada Allah ﷻ.
  • 3- Menjelaskan kemuliaan sabar dan tegar di atas agama.
  • 4- Hikmah menuntut ilmu di usia muda karena umumnya pemuda lebih cepat hafal dibanding orang tua.
  • 5- Kekuatan iman pemuda ini. Dia tidak goyah dari keimanannya dan tidak meninggalkannya.
  • 6- Allah ﷻ akan mengabulkan doa orang yang terdesak jika ia berdoa.
  • 7- Seseorang boleh menempatkan dirinya dalam risiko demi kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin. Pemuda tersebut telah menunjukkan kepada raja cara untuk membunuh dan membinasakan dirinya, yaitu dengan mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, meletakkannya di tengah-tengah busur, lalu mengucapkan, "Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini."
  • 8- Boleh berbohong dalam perang dan yang semisalnya, demikian juga untuk menyelamatkan seorang jiwa dari kebinasaan.
  • 9- Seorang mukmin akan diuji dalam ketulusan imannya dan keteguhan di atas menyampaikan kebenaran, meskipun sampai ke tingkat mengorbankan nyawa.
  • 10- Berkorban di jalan dakwah kepada Allah dan menyampaikan kebenaran.
  • 11- Hati manusia di tangan Allah, Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Pemuda ini mendapatkan petunjuk, padahal ia dalam asuhan tukang sihir dan pengawasan raja yang zalim.
  • 12- Boleh memohon kepada Allah Ta'ala agar memperlihatkan kepada hamba sebuah tanda untuk mengenal kebenaran dan yang akan mendatangkan keyakinan.
  • 13- Kaum beriman menjadikan seluruh nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada mereka sebagai sarana untuk melayani agama-Nya serta berdakwah menyeru kepada jalan-Nya.
  • 14- Sebab-sebab kematian ada di tangan Allah. Jika Allah berkehendak, Dia akan merealisasikannya, namun jika tidak, Allah akan membatalkannya.
  • 15- Orang kafir tidak sedang kekurangan argumen dan bukti untuk beriman, tetapi kekafiran mereka disebabkan oleh sikap keras kepala dan kesombongan.
  • 16- Tagut dan orang-orang zalim seputar mereka memiliki kesiapan untuk membunuh semua manusia demi mempertahankan kenikmatan dunia yang mereka peroleh.
  • 17- Allah akan menyiksa orang-orang yang zalim dari arah yang mereka tidak sangka-sangka. Orang-orang banyak menyatakan beriman kepada Tuhan pemuda tersebut setelah mereka melihat keteguhannya, kejujuran dakwahnya, dan ketidaktakutannya terhadap celaan orang lain ketika ia di jalan Allah.
  • 18- Ada selain Nabi Isa -‘alaihissalām- yang berbicara saat masih dalam buaian. Hadis ini menjelaskan sabda Rasulullah ﷺ, "Tidak ada yang berbicara dalam buaian kecuali tiga orang...," lalu beliau menyebutkan mereka dan membatasinya pada kalangan Bani Israil saja, tidak mencakup selain mereka.
Penjelasan: العربية

أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان ملك فيمن كان قبلنا من الأمم، وكان له ساحر، فلما كبر الساحر، قال للملك: إني قد كبرت، فأرسل إلي شابًا أعلمه السحر. فبعث الملك إليه شابًا يعلمه، فكان في طريق الشاب إذا ذهب للساحر راهبٌ فقعد إليه مرة وسمع كلامه، فأعجبه، فكان إذا أتى الساحر مر بالراهب وقعد إليه، فإذا أتى الساحر ضربه لتأخره، فشكا ذلك إلى الراهب، فقال: إذا خشيت الساحر، فقل: حبسني أهلي، وإذا خشيت أهلك فقل: حبسني الساحر، فبينما هو كذلك إذ أتى على دابة عظيمة قد منعت الناس من المضي، فقال: اليوم أعلم آلساحر أفضل أم الراهب أفضل؟ فأخذ حجرًا، فقال: اللهم إن كان أمر الراهب أحب إليك من أمر الساحر فاقتل هذه الدابة، حتى يمضي الناس، فرماها فقتلها، ومضى الناس، فأتى الراهب فأخبره، فقال له الراهب: أي بني أنت اليوم أفضل مني، قد بلغ من أمرك ما أرى، وإنك ستبتلى، فإن ابتليت فلا تدل علي، وكان الغلام يبرئ الأكمه والأبرص، ويداوي الناس من سائر الأمراض بإذن الله، فسمع جليس للملك كان قد فقد بصره، فأتاه بهدايا كثيرة، فقال للغلام: كل ما هاهنا من الهدايا لك إن أنت شفيتني. فقال: إني لا أشفي أحدًا إنما يشفي الله، فإن أنت آمنت بالله دعوت الله فشفاك، فآمن بالله فشفاه الله، فأتى الملك فجلس إليه كما كان يجلس، فقال له الملك: من رد عليك بصرك؟ قال: ربي، قال: ولك رب غيري؟ قال: ربي وربك الله. فأخذه فلم يزل يعذبه حتى دل على الغلام، فجيء بالغلام، فقال له الملك: أي بني قد بلغ من سحرك ما تبرئ الأكمه والأبرص، وتفعل وتفعل. فقال: إني لا أشفي أحدًا، إنما يشفي الله، فأخذه فلم يزل يعذبه حتى دل على الراهب. فجيء بالراهب، فقيل له: ارجع عن دينك، فأبى، فدعا بالمنشار، فوضعه في مفرق رأسه، فشقه به نصفين. ثم جيء بجليس الملك فقيل له: ارجع عن دينك، فأبى فوضع المنشار في مفرق رأسه، فشقه به نصفين. ثم جيء بالغلام فقيل له ارجع عن دينك، فأبى فدفعه إلى رجال من أصحابه بين الثلاثة والعشرة. فقال: اذهبوا به إلى جبل كذا وكذا، فاصعدوا به الجبل، فإذا بلغتم أعلاه، فإن رجع عن دينه، وإلا فاطرحوه، فذهبوا به فصعدوا به الجبل. فقال الغلام: اللهم اكفنيهم بما شئت، فرجف بهم الجبل وتحرك حركة شديدة فسقطوا، وجاء يمشي إلى الملك. فقال له الملك: ما فعل أصحابك؟ قال: كفانيهم الله. فدفعه إلى نفر من أصحابه، فقال: اذهبوا به فاحملوه في سفينة صغيرة، فتوسطوا به البحر، فإن رجع عن دينه وإلا فاقذفوه في البحر. فذهبوا به، فقال: اللهم اكفنيهم بما شئت، فانقلبت بهم السفينة فغرقوا، وجاء يمشي إلى الملك. فقال له الملك: ما فعل أصحابك؟ قال: كفانيهم الله، فقال الغلام للملك: إنك لا تستطيع قتلي حتى تفعل ما آمرك به. قال: وما هو؟ قال: تجمع الناس في أرض بارزة، وتصلبني على جذع شجرة، ثم خذ سهمًا من كنانتي، ثم ضع السهم في مقبض القوس، ثم قل: باسم الله رب الغلام، ثم ارمني، فإنك إذا فعلت ذلك قتلتني، فجمع الناس في مكان واحد، وصلبه على جذع، ثم أخذ سهمًا من كنانته، ثم وضع السهم في وسط القوس، ثم قال: باسم الله رب الغلام، ثم رماه فوقع السهم في صدغه بين عينه وأذنه، فوضع يده في صدغه في موضع السهم فمات. فقال الناس: آمنا برب الغلام، آمنا برب الغلام، آمنا برب الغلام. فأُتي الملك فقيل له: أرأيت ما كنت تخاف؟ قد والله نزل بك ما خفت وهو اتباع الناس للغلام وإيمانهم بربه أجمعون، فأمر بشق الأرض شقوقًا عظيمة مستطيلة في أبواب الطرق، وأوقد وأشعل النيران فيها، وقال: من لم يرجع عن دينه فاطرحوه فيها، ففعلوا ما أمرهم الملك به، حتى جاءت امرأة ومعها صبي لها فتوقفت ولزمت موضعها وكرهت الدخول في النار، فقال لها صبيها: يا أمه اصبري فإنك على الحق.

  • إثبات كرامات الأولياء، ومن ذلك قتل الدابة العظيمة برمية الغلام، وإجابة دعاء الغلام مرتين، وكلام الطفل الرضيع.
  • نصر من توكل على الله سبحانه.
  • بيان شرف الصبر والثبات على الدين.
  • الحكمة في التعلّم في أول العُمر؛ لأنَّ الشاب في الغالب أسرع حفظًا من الكبير.
  • قُوَّة إيمان هذا الغلام، وأنه لم يتزحزح عن إيمانه ولم يتحول.
  • الله عز وجل يجيب دعوة المضطر إذا دعاه.
  • الإنسان يجوز أن يُغَرِّر بنفسه في مصلحة عامة للمسلمين، فإن هذا الغلام دل الملك على أمر يقتله به ويهلك به نفسه، وهو أن يأخذ سهمًا من كنانته ويضعه في كبد القوس ويقول: باسم الله رب الغلام.
  • جواز الكذب في الحرب ونحوها، وفي إنقاذ النفس من الهلاك.
  • المؤمن يُختَبر في صدق إيمانه والثبات على قول الحق، وإن وصل به الأمر إلى إزهاق نفسه.
  • التضحية في سبيل الدعوة إلى الله وإظهار الحق.
  • قلوب العباد بيد الله فيهدي من يشاء ويضل من يشاء، فقد اهتدى الغلام وهو في أحضان الساحر وعناية الملك العاثر.
  • جواز سؤال الله تعالى أن يري العبد علامة يعرف بها الصواب ويحصل له اليقين.
  • أهل الإيمان يسخرون كل ما أتاهم الله وتفضل به عليهم لخدمة دينه والدعوة إلى سبيله.
  • أسباب الهلاك بيد الله، فإن شاء أنفذها وإن شاء قطعها.
  • أهل الكفر لا تنقصهم الحجج والبراهين ليؤمنوا، وإنما سبب كفرهم هو العناد والكبر.
  • الطواغيت والظالمون عندهم الاستعداد لقتل الناس جميعًا ليبقوا على ما هم فيه من نعيم الدنيا.
  • الله يعاقب الذين ظلموا من حيث لم يحتسبوا، فقد آمن الناس برب الغلام عندما رأوا ثباته وصدق دعوته وعدم خشيته في الله لومة لائم.
  • هناك من تكلم في المهد غير المسيح عليه السلام، وهذا الحديث يشرح قول رسول الله صلى الله عليه وسلم: "لم يتكلم في المهد إلا ثلاثة..."، وذكرهم، وحصرهم في بني إسرائيل دون غيرهم.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya