Ar-Risalah
Hadis

Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

Sahih berdasarkan semua jalurnyaHR. Abu Daud, Nasai dalam Al-Kubrā, dan Ahmad

Teks Arab

عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ».

Terjemahan

Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'"

Penjelasan

Nabi ﷺ melarang seorang muslim dalam percakapannya mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendak polan, ataupun: atas kehendak Allah dan polan. Alasannya adalah karena kehendak dan kemauan Allah bersifat umum, tidak ada seorang pun yang menyertai-Nya di dalamnya. Sedangkan menggunakan kata "waw" (bermakna: dan) sebagai kata sambung mengindikasikan adanya kesertaan seseorang bersama Allah dan penyetaraan antara keduanya. Akan tetapi, hendaklah mengatakan: Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan; yaitu menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah dengan menggunakan "ṡumma" (bermakna: kemudian) sebagai ganti "waw" (bermakna: dan), karena ṡumma menunjukkan kehadiran setelahnya dan selang waktu.

Pelajaran

  • 1- Pengharaman ucapan: "Atas kehendak Allah dan kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "waw", karena termasuk syirik dalam lafaz dan ucapan.
  • 2- Dibolehkan mengucapkan: "Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "ṡumma", karena hal terlarang itu tidak ada di dalamnya.
  • 3- Penetapan adanya kehendak bagi Allah serta penetapan adanya kehendak bagi hamba. Kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Ta'ala.
  • 4- Larangan menjadikan makhluk sebagai sekutu Allah dalam kehendak, walaupun dalam bentuk lafaz.
  • 5- Apabila penuturnya meyakini bahwa kehendak hamba sama seperti kehendak Allah ﷻ dalam hal cakupan dan keumumannya, atau meyakini bahwa hamba tersebut memiliki kehendak yang berdiri sendiri, maka hukumnya syirik besar. Adapun kalau dia meyakini bahwa ia di bawah itu, maka hukumnya syirik kecil.
Penjelasan: العربية

نَهَى النبيُّ صلى الله عليه وسلم أنْ يقولَ المسلمُ في كلامه: "ما شاء الله وشاء فلان"، أو ما شاء الله وفلان؛ وذلك لأنَّ مَشيئةَ الله وإرادتَه مُطْلَقَةٌ ولا يشاركه فيها أحد، وفي استخدام الواو في العطف إشعارٌ بمشاركةِ أحدٍ مع الله والتسوية بينهما. ولكن يقول: ما شاء الله، ثم شاء فلان، فيجعل مشيئةَ العبدِ تابعةً لمشيئة الله بقول: "ثم" بدلًا من "و"، لأن "ثم" تفييد التعقيب والتراخي.

  • تحريم قول: "ما شاء الله وشئت"، وما أشبه ذلك من الألفاظ مما فيه العطف على الله بالواو؛ لأنه من شرك الألفاظ والأقوال.
  • جواز قول: "ما شاء الله ثم شئت"، وما أشبه ذلك مما فيه العطف على الله بثُمَّ؛ لانتفاء المحذور فيه.
  • إثبات المشيئة لله، وإثبات المشيئة للعبد، وأن مشيئة العبد تابعة لمشيئة الله تعالى.
  • النهي عن إشراك الخلق في مشيئة الله ولو باللفظ.
  • إن اعتقد القائل أن مشيئة العبد كمشيئة الله جل وعلا مساوية لها في الشمول والإطلاق، أو أن العبد له مشيئة مستقلة فهو شرك أكبر، أما إن اعتقد أنه دونه؛ فهو شرك أصغر.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya