Ar-Risalah
Hadis

Wahai sekalian manusia! Bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihHR. Muslim

Teks Arab

عن الْأَغَرِّ رضي الله عنه، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ».

Terjemahan

Al-Agarr -raḍiyallāhu 'anhu-, salah seorang sahabat Nabi ﷺ, meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia! Bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali."

Penjelasan

Nabi ﷺ meminta sekalian manusia agar memperbanyak tobat dan istigfar. Beliau menyampaikan tentang diri beliau yang bertobat dan memohon ampunan kepada Allah dalam sehari lebih dari seratus kali, padahal semua dosa beliau yang lalu dan yang akan datang telah diampuni. Hal itu menunjukkan kesempurnaan perendahan dan penghambaan diri beliau kepada Allah ﷻ.

Pelajaran

  • 1- Setiap orang, setinggi apa pun tingkat dan derajat imannya, butuh kembali kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dan menyempurnakan dirinya dengan tobat karena setiap orang tidak luput dari lalai dalam menunaikan hak Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: "Bertobatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman." (QS. An-Nūr: 31)
  • 2- Tobat berlaku umum, baik karena melakukan perbuatan haram dan dosa atau karena lalai dalam mengerjakan kewajiban.
  • 3- Ikhlas dalam bertobat adalah syarat agar tobat diterima. Jadi, orang yang meninggalkan suatu dosa karena selain Allah sebenarnya tidak bertobat.
  • 4- An-Nawawiy berkata, "Tobat memiliki tiga syarat: meninggalkan kemaksiatan, menyesal telah melakukannya, dan bertekad dengan kuat dan bulat untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan yang sama selamanya. Apabila maksiat tersebut berkaitan dengan manusia, maka tobat memiliki syarat lain yang keempat, yaitu mengembalikan hak yang ia rampas kepada pemiliknya atau mendapatkan pemaafan darinya."
  • 5- Mengingatkan bahwa istigfar Nabi ﷺ tidak berarti lantaran dosa yang beliau lakukan, akan tetapi karena kesempurnaan peribadatan beliau, keterikatan beliau dengan zikir kepada Allah Ta'ala, dan penghayatan beliau tentang besarnya hak Allah Ta'ala sekaligus karena pasti ada kekurangan hamba walau seperti apa pun ia berusaha mensyukuri nikmat-Nya. Di samping itu, hal itu juga dalam rangka penetapan syariat bagi umat setelah beliau dan berbagai hikmah lainnya.
Penjelasan: العربية

يَأْمُرُ النبيُّ صلى الله عليه وسلم الناسَ بالإكثار مِن التوبة والاستغفار، ويُخْبِرُ عن نفسه أنه يتوب إلى الله تعالى ويستغفره في اليوم أكثر من مائة مرة، وقد غُفِر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر، وفي ذلك كمال الذُّلِّ والتعبد لله جل وعلا.

  • كلُّ أحدٍ مهما كانت مرتبته ودرجته في الإيمان، فإنَّه يحتاج إلى الرجوع إلى الله تبارك وتعالى، وتكميل نفسه بالتوبة، وأنَّ كلَّ أحدٍ لا يخلو من تقصيرٍ في القيام بحقِّ الله تبارك وتعالى: (وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ).
  • التوبة عامة سواء من فعل المحرّمات والذنوب أو من التقصير في فعل الواجبات.
  • الإخلاص في التوبة شرط في قبولها، فمن ترك ذنبًا لغير الله لا يكون تائبًا.
  • قال النووي: للتوبة ثلاثة شروط: أن يُقْلِع عن المعصية، وأن يَندم على فعلها، وأن يَعزم عزمًا جازمًا ألَّا يعود إلى مثلها أبدًا، فإن كانت المعصية تتعلق بآدمي فلها شرط رابع، وهو: رَدُّ الظلامة إلى صاحبها، أو تحصيل البراءة منه.
  • التنبيه على أن استغفار النبي صلى الله عليه وسلم لا يلزم أن يكون لذنوب ارتكبها، ولكن ذلك لكمال عبوديته وتعلقه بذكره سبحانه، واستشعاره عظم حق الله تعالى وتقصير العبد مهما عمل في شكر نعمه، وهو من باب التشريع للأمة من بعده، إلى غير ذلك من الحكم.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya