Ar-Risalah
Hadis

Pena diangkat dari tiga orang: orang yang sedang tidur sampai ia bangun, anak yang masih kecil sampai ia balig, dan orang yang gila sampai ia berakal

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihHR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, Ibnu Majah, dan Ahmad

Teks Arab

عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «رُفِعَ الْقَلَمُ عن ثلاثة: عن النائم حتى يَسْتَيْقِظَ، وعن الصبي حتى يَحْتَلِمَ، وعن المجنون حتى يَعْقِلَ».

Terjemahan

Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Pena diangkat dari tiga orang: orang yang sedang tidur sampai ia bangun, anak yang masih kecil sampai ia balig, dan orang yang gila sampai ia berakal."

Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa pembebanan syariat berlaku bagi semua manusia, kecuali tiga orang ini: 1- Anak yang masih kecil hingga ia besar dan balig. 2- Orang gila yang hilang akal hingga akalnya kembali. 3- Orang yang sedang tidur hingga ia bangun. Beban syariat telah diangkat dari mereka serta tindakan mereka melakukan dosa tidak dicatat pada mereka. Akan tetapi, kebaikan akan ditulis bagi anak kecil secara khusus, tidak bagi orang gila dan orang tidur karena keduanya ada dalam ranah orang yang tidak memenuhi syarat sah ibadah karena kehilangan rasa.

Pelajaran

  • 1- Hilangnya kelayakan sebagai mukalaf pada seseorang dapat disebabkan oleh tidur yang menghilangkan kesadaran untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya, umur kecil yang membuatnya tidak layak sebagai mukalaf dan gila yang merusak fungsi akalnya atau yang dihukumi sama dengannya seperti mabuk. Orang yang kehilangan kemampuan untuk membedakan dan memahami secara benar sehingga dengan salah satu dari tiga sebab ini kelayakannya sebagai mukalaf hilang, maka Allah Ta'ala dengan sifat adil-Nya serta sifat lembut dan mulia-Nya telah menghilangkan hukuman atas tindakan melampaui batas atau tindakan lalai yang muncul darinya terkait hak Allah ﷻ.
  • 2- Tidak adanya penulisan dosa pada mereka tidak menihilkan berlakunya sebagian hukum duniawi pada mereka, seperti orang gila kalau membunuh, maka ia tidak diwajibkan kisas maupun kafarat, tetapi kerabatnya dari jalur ayah ('āqilah) wajib membayar diat.
  • 3- Balig memiliki tiga tanda: keluar mani melalui mimpi dan lainnya, tumbuh bulu kemaluan, atau genap berusia lima belas tahun. Tambahan tanda keempat pada perempuan, yaitu haid.
  • 4- As-Subkiy berkata, "Aṣ-Ṣabiy adalah gulām (anak kecil). Yang lain mengatakan, "Anak yang masih dalam perut ibunya disebut janin. Jika telah lahir maka disebut ṣabiy. Ketika kemudian telah disapih maka disebut gulām sampai berusia tujuh tahun. Selanjutnya disebut yāfi' sampai berusia sepuluh tahun. Selanjutnya disebut ḥazūr hingga berusia lima belas tahun." Namun yang dipastikan bahwa anak di semua tahapan ini disebut ṣabiy, sebagaimana dikatakan oleh As-Suyūṭiy.
Penjelasan: العربية

أَخْبَرَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم بأنَّ التكليفَ لازِمٌ لبني آدم إلا هؤلاء الثلاثة: الطفل الصغير حتى يَكْبُرَ ويَبْلُغ. وعن المجنون فاقِدِ العقل حتى يَرجِعَ إليه عقلُه. وعن النائم حتى يَستيقظَ. فالتكليف قد رُفِع عنهم، وفِعْلُهم الإثمَ لا يُكتبُ عليهم، لكن يُكتب الخيرُ للصبي الصغير دون المجنون والنائم؛ لأنهما في حَيِّزِ مَن ليس قابلًا لصحة العبادة منه لزوال الشعور.

  • فَقْدُ الإنسانِ الأهليةَ يكون إما بسبب النوم الذي أفقده الاستيقاظَ لأداءِ واجباته، أو بسبب حَدَاثَةِ السِّنِّ والصِّغَرِ الذي هو معها فاقد للأهلية، أو بسبب الجنون الذي اضطربت معه وظائفه العقلية، أو ما يَلْحَق به كالسُّكْر، فمن فقد التمييز والتصوُّر الصحيحين، فانتفت عنه الأهلية بسببٍ من هذه الأسباب الثلاثة؛ فإن الله تبارك وتعالى بعدله، وحلمه، وكرمه، قد رَفَعَ عنه المؤاخذةَ بما يَصْدُرُ عنه من تعدٍّ أو تقصير في حق الله تعالى.
  • عدم كتابة الآثام عليهم، لا ينافي ثبوت بعض الأحكام الدنيوية عليهم؛ كالمجنون لو قَتَل، فلا قود عليه ولا كفارة، وعلى عاقلته الدية.
  • للبلوغ ثلاث علامات: نزولُ المنيِّ، باحتلام وغيره، أو نَباتُ شَعَر العَانة، أو بإتمام خمسة عشر عامًا، وتزيد المرأة أمرًا رابعًا: وهو الحيضُ.
  • قال السبكي: الصبي الغلام، وقال غيره: الولد في بطن أمه يسمى جَنينًا فإذا وُلِد فصبيٌّ فإذا فُطِمَ فغلامٌ إلى سَبْعٍ ثم يَصيْرُ يافِعًا إلى عَشْر ثم حزورًا إلى خمس عشرة، والذي يُقطع به أنه يُسمّى صبيًّا في هذه الأحوال كلها، قاله السيوطي.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya