Ar-Risalah
Hadis

Ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan: 'sami'allāhu liman ḥamidah' (artinya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya), tidak ada satu pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sampai Nabi ﷺ benar-benar telah turun sujud, kemudian kami baru turun sujud setelahnya

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihMuttafaq 'alaih

Teks Arab

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الخَطْمِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي البَرَاءُ وَهُوَ غَيْرُ كَذُوبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا، ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ.

Terjemahan

Abdullah bin Yazid Al-Khaṭmiy meriwayatkan, Al-Barā` -dan ia bukanlah seorang pendusta- berkata, "Ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan: 'sami'allāhu liman ḥamidah' (artinya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya), tidak ada satu pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sampai Nabi ﷺ benar-benar telah turun sujud, kemudian kami baru turun sujud setelahnya."

Penjelasan

Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, dan ia adalah seorang yang jujur, apabila Nabi ﷺ bangkit dari rukuk serta beliau mengucapkan 'sami'allāhu liman ḥamidah' (artinya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya), para jamaah di belakang beliau masih tetap berdiri tegak, tidak ada seorang pun membungkukkan punggungnya untuk sujud, sampai beliau ﷺ telah meletakkan dahinya di atas tanah, kemudian mereka pun langsung turun sujud setelah beliau.

Pelajaran

  • 1- Cara para sahabat mengikuti Rasul ﷺ dalam salat, yaitu mereka tidak berpindah dari posisi berdiri tegak menuju sujud sampai beliau sujud.
  • 2- Ibnu Daqīq Al-'īd berkata, "Ini menunjukkan panjangnya durasi tumakninah Nabi ﷺ."
  • 3- Dari sisi mengikuti, hubungan antara makmum dengan imam memiliki empat kondisi: 1. Mendahului, yaitu makmum melakukan gerakan sebelum imam, seperti makmum yang sudah sampai ke suatu rukun padahal imam belum. Contoh: Makmum melakukan rukuk sebelum imam rukuk, atau sujud sebelum imam sujud. Ini hukumnya haram. Bahkan, bila ia sengaja mendahului dan ia tahu larangan tersebut, maka hukum salatnya batal, baik ia mendahului satu rukun atau lebih dahulu sampai ke rukun tersebut. Apabila hal itu dalam takbiratul ihram, maka salatnya tidak sah, dan ia harus mengulangi salat dari awal. 2. Berbarengan, yaitu ia melakukan gerakan bersamaan dengan imam. Misalnya: Dia rukuk berbarengan dengan rukuk imam, sujud bersamaan dengan sujud imam, serta bangkit bersamaan dengan bangkit imam. Kondisi ini minimal hukumnya makruh. Namun kalau melihat zahir dalil-dalil yang ada, hukumnya termasuk haram juga. Namun, jika makmum membersamai imam dalam takbiratul ihram, salatnya tidak sah dan ia harus mengulang dari awal. 3. Mengikuti, yaitu makmum melakukan gerakan-gerakan salat langsung setelah imam, tanpa terlambat. Inilah yang disyariatkan dan yang sesuai dengan Sunnah. 4. Terlambat, yaitu ia telat dalam mengikuti gerakan imamnya, kondisi yang mengeluarkannya dari kategori mengikuti imam. Misalnya: Imam sedang rukuk, namun makmum masih berdiri tegak, sampai imam hendak bangkit dari rukuk (iktidal). Tindakan ini menyelisihi syariat, hukumnya haram, kecuali jika disebabkan suatu uzur, misalnya sakit atau usia tua.
Penjelasan: العربية

يخبر البراء ابن عازب رضي الله عنه وهو صادق، أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رفع رأسه من الركوع وقال: سمع الله لمن حمده، لم يزل من خلفه قيامًا، ولم يثنِ أحدٌ ظهره للسجود حتى يضع صلى الله عليه وسلم جبهته على الأرض، ثم يقعون سجودًا بعده.

  • صفة متابعة الصحابة للرسول صلى الله عليه وسلم في الصلاة، وأنهم لا ينتقلون من القيام إلى السجود حتى يسجد.
  • قال ابن دقيق العيد: في ذلك دليل على طول الطمأنينة من النبي صلى الله عليه وسلم.
  • للمأموم مع إمامه أربع حالات من حيث الاقتداء: 1- مسابقة: بأن يبدأ بالشيء قبل إمامه، بأن يصل المأموم إلى الرُّكن قبل أن يصل إليه الإمام، مثل: أن يركع قبل ركوع الإمام، أو يسجد قبل سجود الإمام، وهذا حرام، وإذا تعمَّد السبق مع عِلْمه بالنهي فإنَّ صلاته تبطل، سواء سبقه بركن أو سبقه إلى الركن، وإذا كان في تكبيرة الإحرام لم تنعقد صلاته، ويجب عليه أن يعيدَ الصلاة من جديد. 2- موافقة: بأن يكون موافقًا للإمام، يركع مع ركوعه ويسجد مع سجود وينهض مع نهوضه، وهذا أقلُّ أحواله الكراهة، وظاهر الأدلة أنَّها محرَّمة أيضًا؛ وإذا وافقَ الإمامَ في تكبيرة الإحرام لم تنعقِد صلاتُه وعليه الإعادة. 3- متابعة: بأن يأتي بأفعال الصلاة بعد إمامه بدون تأخُّر، وهذا هو المشروع والموافق للسُّنَّة. 4- تخلُّف: بأن يتخلَّف عن إمامه تخلُّفًا يُخرِجه عن المتابعة، كأن يركع الإمام ويبقى المأموم قائمًا إلى أن يقرب الإمام من الرفع من الرُّكوع، وهذا خلاف المشروع، وهو حرام، إلا إن كان من عذر كمرض وكبر.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya