Ar-Risalah
Hadis

Allah Ta'ala berfirman: Anak Adam menyakiti-Ku. Mereka mencaci masa, padahal Aku pemilik dan pengatur masa. Di tangan-Kulah semua urusan. Akulah yang membolak-balik malam dan siang

Sumber: HadeethEnc.com, Bahasa Indonesia v1.22.0

SahihMuttafaq 'alaih

Teks Arab

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ».

Terjemahan

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: Anak Adam menyakiti-Ku. Mereka mencaci masa, padahal Aku pemilik dan pengatur masa. Di tangan-Kulah semua urusan. Akulah yang membolak-balik malam dan siang."

Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi: Orang yang mencela dan mencaci masa (waktu) ketika terjadi musibah dan keburukan berarti dia telah menyakiti dan mencela-Ku. Alasannya, karena Allah ﷻ adalah yang mengurus dan mengatur sendiri semua yang terjadi, sehingga celaan terhadap masa adalah celaan kepada Allah ﷻ. Masa tidak lain adalah makhluk yang dikendalikan, semua peristiwa yang terjadi padanya berdasarkan perintah Allah Ta'ala.

Pelajaran

  • 1- Hadis ini termasuk yang diriwayatkan oleh Nabi ﷺ dari Allah. Hadis seperti ini disebut hadis qudsi atau hadis ilahi, yaitu hadis yang lafaz dan maknanya berasal dari Allah, tetapi ia tidak memiliki keistimewaan-keistimewaan Al-Qur`an yang membedakannya dari yang lain, seperti beribadah dengan membacanya, bersuci sebelum memegangnya, kemukjizatannya, dan lain sebagainya.
  • 2- Beradab terhadap Allah ﷻ dalam ucapan dan keyakinan.
  • 3- Kewajiban mengimani takdir dan bersabar terhadap keburukan.
  • 4- Tingkatan menyakiti berbeda dengan mencelakai. Seseorang merasa tersakiti ketika mendengar atau menyaksikan sesuatu yang buruk, namun ia tidak mengalami celaka dengan sebab itu. Demikian juga ia merasa terganggu dengan aroma tidak sedap seperti bawang merah dan bawang putih, namun hal itu tidak mencelakainya.
  • 5- Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- merasa tersakiti dengan sebab sebagian perbuatan buruk hamba-Nya, tetapi hal itu tidak mencelakai Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi: "Wahai hamba-hamba-Ku! Kalian tidak mampu untuk mencelakai-Ku sehingga kalian akan mencelakai-Ku. Pun kalian tidak mampu untuk memberi-Ku manfaat sehingga kalian akan memberi-Ku manfaat."
  • 6- Mencela masa dan menyifatinya terbagi menjadi tiga macam: 1) Mencela masa bahwa ia sebagai pelaku; masa itu yang membalik urusan menjadi baik dan buruk! Ini hukumnya syirik besar karena telah meyakini ada pencipta bersama Allah dan karena ia telah menyandarkan penciptaan suatu peristiwa kepada selain Allah. 2) Mencela masa bukan karena meyakininya sebagai pelaku, melainkan ia meyakini bahwa Allah yang melakukannya, namun ia mencelanya karena menjadi media terjadinya perkara tidak baik itu. Ini hukumnya haram. 3) Mencela masa untuk hanya sebatas berkabar, bukan celaan. Ini hukumnya boleh. Di antaranya perkataan Nabi Lut ﷺ: "Dia (Lut) berkata, 'Ini hari yang sangat sulit.'"
Penjelasan: العربية

أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن الله تعالى يقول في الحديث القدسي: يؤذيني ويتنقصني الإنسان الذي يسب ويذم الزمان عند نزول المصائب والمكاره؛ لأنه سبحانه هو المدبر وحده والمصرف لما يحدث؛ فالسب للزمان سب لله عز وجل، والزمان إنما هو خلْقٌ مسخّر، تجري فيه الحوادث بأمر الله تعالى.

  • هذا الحديث مما يرويه النبي صلى الله عليه وسلم عن ربه، ويسمى بالحديث القدسي أو الإلهي، وهو الذي لفظه ومعناه من الله، غير أنه ليست فيه خصائص القرآن التي امتاز بها عما سواه، مِن التَّعَبُّد بتلاوته والطهارة له والتَّحَدِّي والإعجاز وغير ذلك.
  • التأدب مع الله سبحانه في القول والاعتقاد.
  • وجوب الإيمان بالقضاء والقدر، والصبر على الأذى.
  • الأذى غير الضرر؛ فالإنسان يتأذى بسماع القبيح أو مشاهدته؛ ولكنه لا يتضرر بذلك، وأيضًا يتأذى بالرائحة الكريهة كالبصل والثوم ولا يتضرر بذلك.
  • الله سبحانه وتعالى يتأذى ببعض أفعال عباده السيئة، ولكنه جل وعلا ‌لا ‌يتضرر ‌بذلك، كما قال تعالى في الحديث القدسي: «يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني، ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني».
  • سب الدهر ووصفه ينقسم إلى ثلاثة أقسام: 1- أن يسب الدهر على أنه هو الفاعل؛ وأن الدهر هو الذي يقلب الأمور إلى الخير والشر! فهذا شرك أكبر؛ لأنه اعتقد أن مع الله خالقًا، ولأنه نسب إيجاد الحوادث إلى غير الله، 2- أن يسب الدهر لا لاعتقاده أنه هو الفاعل؛ بل يعتقد أن الله هو الفاعل لكن يسبه لأنه محل لهذا الأمر المكروه عنده؛ فهذا محرم، 3- أن يقصد الخبر المحض دون اللوم؛ فهذا جائز، ومنه قول لوط عليه الصلاة والسلام: {وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ}.

Topik

Laporkan kesalahan

Lainnya