Ar-Risalah

طه

Taahaa

135 ayatMakkiyahJuz 16

Mahmud khalil al hushariyHafsh dari 'Ashim - Murattal

Pengaturan membaca

Panduan warna tajwid

Nama, contoh, dan pola garis bawah membantu mengenali kaidah selain warna. Contoh diambil dari teks Al-Qur’an yang diterbitkan.

Gunnah
وَمِمَّا2:3
Ikhfa
يُنفِقُونَ2:3
Idgam
هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ2:2
Iklab
أَلِيمٌۢ بِمَا2:10
Qalqalah (pantulan)
رَزَقْنَـٰهُمْ2:3
Mad: 2 harakat
ٱلرَّحْمَـٰنِ1:1
Mad: 2, 4, atau 6 harakat
ٱلرَّحِيمِ1:1
Mad: 4 atau 5 harakat
بِمَآ2:4
Mad: 6 harakat
ٱلضَّآلِّينَ1:7
Hamzah wasal
ٱللَّهِ1:1
Lam syamsiah
ٱلرَّحْمَـٰنِ1:1
Huruf tidak dibaca
ٱلصَّلَوٰةَ2:3

Tajweed annotations: cpfair/quran-tajweed (CC BY 4.0), built from ReciteQuran.com and the Dar al-Maarifah tajweed masahif; offsets adapted to the current Tanzil text.

Indonesian Translation - Sabiq Company. Versi: 1.1.3. Terakhir diperbarui: 2025-06-02. QuranEnc.com

  1. 114

    فَتَعَـٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

    114. Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur`ān sebelum selesai diwahyukan kepadamu,[525] dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”

    Catatan kaki

    [525]. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril -'alaihissalām- kalimat demi kalimat sebelum Jibril 'Alaihissalām selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan.

    Tafsir As-Sa’di (Bahasa Indonesia)

    Mencakup ayat 114

    (114) Ketika allah تعالى menyebutkan keputusan pembalasan-Nya pada para hambaNya dan ketetapan perintah agamaNya yang Allah turunkan di dalam KitabNya, -realita ini termasuk bagian dari implikasi kekuasaanNya-, Allah berfirman, ﴾ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ﴿ "Maka Mahatinggi Allah," maksudnya Mahabesar, berada di ketinggian, suci dari segala kekurangan dan kerusakan. ﴾ ٱلۡمَلِكُ ﴿ "Raja," yang kepemilikan kerajaan menjadi ciriNya, dan semua makhluk adalah budak-budakNya. Ketetapan hukum-hukum kekuasaan qadari maupun syar'iNya berlaku pada mereka. ﴾ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Yang sebenar-benarnya," maksudnya wujudNya, kerajaanNya, dan kesempurna-anNya benar-benar haq. Sifat-sifat kesempurnaan tidaklah hakiki kecuali bagi Dzat Yang Memiliki keagungan. Termasuk hal itu adalah kepemilikan kekuasaan. Sesungguhnya selainNya dari kalangan makhluk, walaupun mempunyai kekuasaan pada waktu-waktu tertentu yang meliputi sebagian aspek, akan tetapi kekuasa-annya adalah kekuasaan yang pendek, batil lagi akan sirna. Adapun (kekuasaan) Allah, maka akan terus eksis dan tidak musnah, karena Dia Raja, Yang Mahahidup, Maha menangani yang lain lagi Maha-agung. ﴾ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum wahyunya disampaikan (secara sempurna) kepadamu," maksudnya janganlah engkau bersegera untuk menangkap al-Qur`an ketika Jibril sedang membacakannya kepa-damu. Bersabarlah sampai dia menuntaskannya. Jika dia sudah selesai, maka bacalah. Sesungguhnya Allah telah menjamin pe-ngumpulannya bagimu di dadamu dan dalam bacaan al-Qur`anmu. Seperti yang difirmankan Allah تعالى, ﴾ لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ 16 إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ 17 فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ 18 ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ 19 ﴿ "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tang-gungan Kamilah mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya." (Al-Qiyamah: 16-19), ketika ketergesaan dan kesegeraan beliau untuk menerima wahyu menunjukkan kecintaan beliau yang utuh kepada ilmu dan keantu-siasan untuk menguasainya, maka Allah memerintahkan beliau untuk meminta tambahan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu baik, dan banyak kebaikan itu dituntut, kebaikan itu berasal dari Allah, dan jalan menuju ke sana adalah melalui ketekunan, kerinduan kepada ilmu, memohon dan meminta pertolongan kepadaNya serta duduk bersimpuh kepadaNya di setiap waktu. Bisa diambil pelajaran dari ayat yang mulia ini, mengenai etika dalam menerima ilmu, bahwa orang yang mendengarkan ilmu seyogyanya perlahan-lahan dan bersabar, sampai pendikte dan pengajar selesai dari penjelasannya yang saling berkaitan. Jika ia sudah selesai darinya, pencari ilmu menanyakan(nya) bila dia punya pertanyaan. Janganlah dia bersegera bertanya dan memo-tong keterangan orang yang mengajar. Sesungguhnya sikap ini penyebab terhalangi (dari menguasai ilmu). Demikian juga orang yang ditanya, seharusnya ia meminta penjelasan lebih lanjut tentang pertanyaan penanya dan melacak maksudnya sebelum menjawab. Sesungguhnya sikap ini menjadi penyebab ketepatan dalam men-jawab dengan benar.

    Tafsir As-Sa’di, Bahasa Indonesia v1.0.0, QuranEnc.com

    Tindakan ayat
    Buka halaman ayat 114 Periksa bacaan saya: Eksperimental
    Catatan pribadi

Baca tafsir

Surah berikutnyaAl-Anbiyaa’ (Para Nabi)الأنبياء

Laporkan kesalahan

Lainnya