آل عمران
Ali‘Imran (Keluarga Imran)
Mahmud khalil al hushariyHafsh dari 'Ashim - Murattal
Pengaturan membaca
Indonesian Translation - Sabiq Company. Versi: 1.1.3. Terakhir diperbarui: 2025-06-02. QuranEnc.com
- 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَـٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّـٰكِرِينَ
144. Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul,[148] sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Catatan kaki
[148]. Nabi Muhammad-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi Rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat karena terbunuh, ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Pada waktu Perang Uhud berkecamuk tersiar berita bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang munafik mengatakan bahwa kalau Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menentramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang munafik itu. (Sahih Bukhari, bab Jihad). Abu Bakar-raḍiyallāhu 'anhu- mengemukakan ayat ini – di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat pada hari wafatnya Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menentramkan Umar Ibnul Khattab -raḍiyallāhu 'anhu- dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang wafatnya Nabi itu. (Sahih Bukhari, bab Ketakwaan Sahabat).
Tafsir As-Sa’di (Bahasa Indonesia)
Mencakup ayat 144
(144) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ ﴿ "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul." Maksudnya, beliau bukan rasul yang pertama, bahkan beliau adalah termasuk jenis para rasul yang (telah ada) sebelum beliau, di mana tugas mereka adalah menyam-paikan misi Rabb mereka dan melaksanakan perintah-perintahNya, dan mereka itu tidaklah kekal. Kekekalan mereka bukanlah suatu syarat dari penaatan pada perintah-perintah Allah. Yang wajib atas seluruh umat adalah beribadah kepada Rabb mereka pada setiap waktu dan kondisi. Karena itu Allah berfirman,﴾ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ ﴿ "Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)" dengan meninggalkan sesuatu yang telah da-tang kepada kalian berupa keimanan, (syariat) jihad, atau selainnya? Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Barang-siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun," dia hanya akan mendatangkan mudarat kepada dirinya sendiri, dan sekiranya tidak demikian, maka Allah tidak butuh kepadanya, dan Allah pasti akan mene-gakkan agamaNya serta memuliakan hamba-hambaNya yang beriman. Ketika Allah mencela orang-orang yang berbalik arah ke belakang (murtad), maka Allah memuji orang-orang yang tegar bersama RasulNya dan menaati perintah Tuhannya seraya berfir-man, ﴾ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." Bersyukur itu tidaklah ada kecuali dengan menegakkan penghambaan kepada Allah dalam segala kondisi. Di dalam ayat yang mulia ini terkandung petunjuk dari Allah kepada hamba-hambaNya agar senantiasa kondisinya tidak tergo-yahkan dalam keimanan mereka atau dalam hal-hal yang berkaitan dengannya yaitu kehilangan pemimpin mereka, walaupun itu berat. Hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan mempersiapkan segala hal dalam setiap urusan agama dengan mempersiapkan be-berapa orang yang mumpuni dalam hal itu. Apabila salah seorang meninggal, maka digantikan oleh lainnya, dan agar seluruh kaum Mukminin bertujuan untuk menegakkan agama Allah dan berjihad menurut kemampuannya, dan agar jangan sampai mereka memiliki tujuan bersama suatu pemimpin tanpa pemimpin lainnya, maka dengan kondisi ini niscaya urusan mereka akan lancar dan berjalan baik. Di dalam ayat ini juga terkandung sebuah dalil yang agung atas keutamaan ash-Shiddiq Abu Bakar رضي الله عنه dan orang-orang yang ikut bersamanya dalam memerangi orang-orang yang murtad se-telah wafatnya Rasulullah ﷺ, karena mereka itu adalah pemimpin orang-orang yang bersyukur.
Tindakan ayat